INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom mendesak pemerintah membelanjakan anggaran secara masif di triwulan pertama 2026 untuk memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran serta mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen.
“Jangan belanjanya di triwulan IV, sudah lewat momentum. Justru semester 1 harus dikebut. Kalau bisa 50 persen dari anggaran Rp3.000 triliun dibelanjakan di semester 1, target 5,4 persen akan realistis,” ujar Eko Listiyanto.
INDEF mengidentifikasi tiga aspek yang harus dijaga di triwulan I: pertama, stabilitas moneter melalui pengendalian daya beli, inflasi, dan nilai tukar rupiah. Inflasi Januari 2026 yang mencapai 3,55 persen sudah mendekati batas atas target 3,5 persen.
Kedua, percepatan belanja fiskal yang lebih optimal dibanding tahun lalu yang terganggu kebijakan efisiensi di awal tahun.
Ketiga, mitigasi gejolak geopolitik global yang di luar kontrol pemerintah, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dengan China, Uni Eropa, dan Timur Tengah.
Terkait suku bunga, INDEF memperkirakan Bank Indonesia akan menahan BI Rate di 4,75 persen dalam beberapa bulan ke depan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.
“Penginnya bunga bisa ditekan, tapi situasinya tidak mungkin. Apalagi ditambah inflasi 3,55 persen di atas target. BI harus fokus stability first,” kata Eko.






