Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

KEUANGAN

Rupiah Anjlok, Penjualan Ritel Makin Menarik

badge-check


					Ruoiah menembus posisi terendahnya sejak krisis moneter silam. (Al Sattar) Perbesar

Ruoiah menembus posisi terendahnya sejak krisis moneter silam. (Al Sattar)

INAnews.co.id – Rupiah memasuki pekan perdagangan baru dalam tekanan jual yang semakin besar. Kurs Rupiah merosot ke level terendah baru dalam dua dekade terhadap Dolar AS di level 15248.

Berbagai faktor menyebabkan sentimen investor terhadap pasar berkembang semakin meredup dalam beberapa pekan terakhir, termasuk perkembangan situasi dagang, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan apresiasi Dolar. Walaupun depresiasi signifikan Rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, namun dampak negatifnya dapat merambat ke ekonomi Indonesia.

Perlu diperhatikan bahwa penurunan signifikan kurs Rupiah dapat memberi tekanan semakin besar terhadap utang luar negeri Indonesia. Kenaikan suku bunga AS dan apresiasi Dolar memukul negara dengan defisit transaksi berjalan dan uang luar negeri, sehingga Rupiah Indonesia tetap berada di posisi yang tidak menggembirakan.

Ekspektasi semakin besar bahwa Bank Indonesia akan meningkatkan suku bunga di kuartal ini guna menolong Rupiah dan menghambat arus keluar modal. Walau demikian, langkah ini mungkin tidak terlalu membantu Rupiah, terutama meninjau bahwa BI sudah meningkatkan suku bunga sebanyak lima kali sejak pertengahan Mei tahun ini.

Investor akan tetap sangat memperhatikan rilis data penjualan ritel bulan Agustus yang dapat memberi wawasan mengenai keadaan ekonomi Indonesia. Data penjualan ritel yang baik dapat meningkatkan sentimen terhadap ekonomi Indonesia dan mendukung Rupiah, namun peningkatan akan tetap terancam oleh faktor eksternal.

Dari aspek teknis, USDIDR tetap sangat bullish di grafik harian. Harga berada di kisaran 15260 pada saat laporan ini dituliskan. Dolar yang menguat dapat mengangkat pasangan mata uang ini ke level yang tak pernah tersentuk sejak krisis keuangan 1998 yaitu 15280.

Dolar AS sendri menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan.  Sempat melemah pada Jumat lalu karena investor mencerna data lapangan kerja AS yang bervariasi di bulan September. Ekonomi AS mendapat tambahan 134000 lapangan kerja bulan lalu, di bawah prediksi 185000. Walaupun dalam situasi normal, data umum yang gagal mencapai ekspektasi dapat memicu kekhawatiran mengenai pasar tenaga kerja AS, namun data kali ini terdistorsi oleh Badai Florensia.

Tingkat pengangguran merosot ke level terendah sejak 1969 dan rata-rata upah sesuai dengan proyeksi, sehingga ekspektasi tetap tinggi mengenai kenaikan suku bunga AS. Indeks Dolar bullish di grafik harian dengan resistance 96.00 sebagai level yang diperhatikan. Penutupan harian di atas level ini dapat membuka jalan untuk peningkatan menuju 96.43.

Penguatan nilai tukar emas ini mengakibatkan penurunan harga emas. Dalam perdagangan di pasar komoditi, harga emas diperdagangkan pada kisaran $1193. Harga cenderung bearish dalam pekan ini menyoroti bahwa logam mulia ini tetap berkorelasi negatif dengan Dolar AS.

Dolar terangkat oleh arus safe haven, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan sentimen bullish terhadap ekonomi AS sehingga prospek emas tampaknya tetap mengarah ke bawah. Penurunan ke bawah $1190 dapat membuka jalan menuju $1183. (Al Sattar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Danantara Jadi Ujung Tombak Pemulihan Pascabencana di Aceh

2 Januari 2026 - 08:47 WIB

Membedah Kontradiksi Kebijakan Moneter BI yang Dianggap Berhalusinasi

31 Desember 2025 - 09:11 WIB

Populer KEUANGAN