INAnews.co.id, Jakarta – Waka Polres Sorong Kota Kompol Hengki Kristanto Abadi mengungkapkan, gerakan radikal yang mengangkat isu agama di wilayah Sorong ini menjadi antensi penting yang harus diantisipasi oleh jajarannya .
Sementara itu, selalu mengutamakan juga pendekatan persuasif, yaitu dengan mengajak masyarakat dialog dan berperan menciptakan suasana aman.
“Tak bisa tidak polisi harus melibatkan masyarakat, kita selalu mencari ide ide positif, jangan sampai isu negatif dibiarkan merambat karena hal ini bisa menjadi bibit bibit radikalisme,” ungap Hengki.
Populasi Muslim dan Kristen, kata dia, sama-sama 50%. “Jika terjadi polarisasi agama ini akan sangat berbahaya,” ujar Hengki.
Gerakan radikal di wilayah Sorong, bisa dipetakan ke dalam dua golongan besar. Selain ada yang membawa isu agama, juga ada yang berbasis ideologis.
“Ada beberapa tipe gerakan radikal di Sorong Kota ini. Pertama yang berbasis ideologi politik, sama dengan di Manokwari, dan kedua isu agama. Tetapi kita fokus pada yang kedua, isu agama,” jelasnya.
Dan awalnya, wilayah Sorong membawahi empat kabupaten. Namun, setelah dimekarkan masing masing kabupaten menjadi polres mandiri, yaitu Sorong Kota, Sorong Kabupaten, Sorong Selatan dan Raja Ampat.






