INAnews.co.id , Bitung– Diduga akibat pengelolaan pembangunan jalan Tol Bitung – Manado yang tidak profesional sejumlah rumah di kelurahan Kakenturan Dua, kecamatan Maesa menjadi korban terendam lumpur.
Diguyur hujan selama satu jam pada Minggu 08 Desember 2019 di daerah tersebut, air bercampur tanah mulai masuk genangi rumah warga di kelurahan Kanteturan Dua.
Alhasil masyarakat sekitar yang sedang menikmati hari libur terganggu akibat genangan lumpur air dan membuat warga sekitar panik.

Diantara rumah warga yang terkena genangan air bercampur lumpur tersebut adalah rumah dari keluarga Lumempouw – Salindeho.
Rumah milik Ketua Umum Organisasi Kristen Laskar Benteng Indonesia Allan Berty Lumempouw tersebut ikut terendam lumpur, dan dikabarkan sejumlah perabot rumah rusak.
Menurut Lumempouw kejadian seperti ini sudah dua kali terjadi, yang sebelumnya terjadi padi sekitar bulan November lalu.
“Hal ini diakibatkan karena Pekerjaan Pembangunan jalan Tol yang tidak memperhatikan dampak lingkungan alias pihak kontraktor bekerja asal-asalan,” ujar Lumempouw sapaan akrabnya kepada Redaksi pada Senin 09 Desember 2019.
“Gimana nda mau banjir kalo seluruh saluran air yang ada di daerah kami sudah ditutup oleh pihak kontraktor pembangunan jalan tol dengan puing-puing bekas bongkaran rumah,” cetusnya.
Tambah Lumempouw ketika hujan datang sudah tidak ada lagi penahan seperti pohon yang sudah di tebang, dan beberapa rumah sudah di bongkar dan di tambah lagi saluran sudah tidak ada.
“Padahal rumah kami sebelum ada proyek jalan tol Ini tidak pernah ada banjir sama sekali,” lanjut Lumempouw yang juga merupakan Pembina Garda Tipikor Indonesia (GTI) Sulawesi Utara ini.
Menurur Lumempouw hal ini sudah beberapa kali disampaikan lewat pemerintah daerah melalui kelurahan, dan menurut lurah sudah diberitahukan secara resmi ke pihak pengelolah jalan tol namun tidak pernah ditanggapi.
Dirinya mengaku sangat menyesalkan sikap dari Pengelolah jalan tol yang tidak punya hati dan kepedulian sama sekali tekait masalah ini.
“Kami disini semua akhirnya hidup dalam ketakutan mengingat saat ini musim hujan yang bisa saja curah hujannya akan tinggi, gimana kalo hujan seharian, bisa tenggelam rumah kami semua,” tuturnya
Lumempouw berharap kepada pengelola jalan tol untuk bertanggung jawab terkait hal ini.
Lumempouw juga minta kepada pemerintah provinsi Sulawesi Utara bahkan Pemerintah Pusat agar menegur bahkan memberikan sangsi kepada pihak kontraktor yang bekerja tidak profesional.
“Kalau perlu kontraktor yang mengerjakan jalan tol diganti saja,” terang Allan Berty Lumempouw dengan nada kesal.






