INAnews.co.id, Jakarta – Kamis ,28 Januari 2021.Sebuah resonansi dari sebuah renungan panjang seorang penulisnya.Maka simak dan renungkan.
Ramang kecil Kadir kecil
Menggiring bola di jalanan
Rully kecil Ricky kecil
Lika liku jebolkan gawang
Tiang gawang puing puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya
Para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepakbols menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang uang saja
Dan sementara kita di sini di jalan ini
Lirik lagu Iwan Fals ini mendahului kemunculan futsal. Dan saya gelisah mendengar suara Iwan Fals padahal saat itu saya sedang melakukan hajat yang paling saya nikmati, ngufi pake ep di warkop gacorr bawah rel di jalan proklamasi.
Betapa saya tidak gelisah, lagu itu jelas mengingatkan kami, saya dan teman ngufi saya tatkala kecil doeloe. Kami biasa bermain bola di kebon, di luas tanah yang sebagiannya ditanami pohon jambu air. Luas area tanah itu nyaris sama dengan luas lapangan futsal kini. Bermainnya pun nyaris sama, kadang lima lawan lima, kadang enam lawan enam kadang lima lawan enam kalau jumlah kami ganjil dan di antara kami ada yang lebih jago mainnya dari kami.
Lagu Iwan Fals jelas menggambarkan tentang semakin langkanya lapangan bola di dalam lingkungan hunian penduduk tradisional. Jawaban atas lagu Iwan Fals itu adalah munculnya Futsal. Sayangnya, futsal muncul pada era manusia sangat berbisnis.
Tak ada satu lapangan futsal pun yang menyilahkan anak-anak bermain bola seenaknya, sepuasnya sampe kaki tak lagi kuat berlari.
Lapangan futsal menjamur sebagai bisnis olahraga dengan menyewakan lapangan futsal yang harga sewa perjamnya bervariasi, dari sekian ribu rupiah sampai puluhan ribu rupiah (ratusan ribu rupiah?).
Walhasil, penyewanya adalah mereka yang sudah bekerja atau anak-anak yang uang jajannya berlebih lalu urunan untuk menyewa lapangan kemudian bermain sepakbola. Duhai.. Ini negeri yang kata orang adalah negeri kaya.
Satu negeri yang kaya di antara negeri-negeri yang ada di Indonesia adalah Jambi. Kini Jambi sedang gelisah. Setidaknya orang-orang Jambi yang suka bermain bola yang sedang gelisah.
Mereka ingin benar punya tim sepakbola. Mereka tengah menyimpan malu karena sebagai anak provinsi “dikalahkan” oleh anak kabupaten: kota Malang punya tim Arema, kota Bogor punya tim Persikabo, dan kabupaten lain yang tim sepakbolanya sudah meng-Indonesia.
Amboi.. Itulah bius dari olahraga sepakbola. Ada rasa gengsi yang sangat di dalam cabang olahraga (cabor) ini. Cabor yang di dalam permainannya mengandung unsur: speed, power, endurance, skill dan teamworks. Cabor yang menjadi cermin keunggulan suatu bangsa atas bangsa lain di dunia ini.
Saya pun terhenyak mendengar kegelisahan di Jambi yang diceritakan oleh teman saya yang ada di KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia).
Saya pun bangga dengan kejujurannya. Namun sendi lutut saya terasa lemas karena untuk mendirikan tim sepakbola yang berbiaya lumayan itu, teman saya harus pulang ke Jambi.
Ia tak bisa melakukannya dari Jakarta.
Ia harus memberi pemahaman terhadap pemerintah provinsi (pemprov) Jambi.
Ya. Bagaimana sendi-sendi saya tidak merasa lemas karena saya mahfum bahwa di negeri ini, kebijakan pengelolaan keuangan –pemerintah daerah maupun pemerintah pusat– sangat dipengaruhi oleh sikap politik para politisi yang nota bene sedang memegang tampuk kekuasaan.
Hingga kemajuan masyarakat di suatu daerah sangat bergantung dari like or dislike politik. Bukan berdasarkan needed masyarakat.
Aah.. Pantaslah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Sepakbola – World Cup milik FIFA hanya sebatas angan-angan di atas rumput hijau, bagi negeri ini.
Dan Jambi sedang berusaha mewujudkan impian kecilnya, mendirikan tim sepakbola. Semoga saja tim itu berdiri seiring pembangunan stadion sepakbolanya.
Dari stadion Jambi yang dibangun dengan standar internasional, yang membangun instalasi broadcast di dalamnya, akan memunculkan pertandingan sepakbola yang berkualitas dunia.
Bila seperti ini, tak hanya tim sepakbola Jambi yang akan disegani. Masyarakat sekota Jambi pun akan mendapatkan respek dari dunia sepakbola.
Inilah kelemahan manajamen olahraga di negeri ini. Membangun stadion sepakbola tanpa menyiapkan kelengkapan untuk siaran televisi di dalamnya.
Setiapkali ada pertandingan dari stadion di kota negeri ini yang akan disiarkan atau dijadikan tayangan televisi, terlihatlah arak-arakan perlengkapan broadcast diangkut masuk ke stadion dengan mobil box.
Kesibukkan yang menyerupai rombongan bisnis hiburan kemedi puter yang membawa tong setan bagi masyarakat migran.
Lelah memang melihat kedalaman negeri ini yang wajahnya sedang bermake up infrastruktur sarana transportasi.
Bagi kami yang menginginkan kemajuan versi kami, menjadikan pertandingan olahraga Indonesia tak hanya sepakbola sebagai siaran televisi, event Pesta Olahraga Buruh Indonesia 2021 adalah wujud dari usaha kami.
Ya. Pesta Olahraga Buruh Indonesia 2021 atau POBI yang akan diramaikan oleh buruh Indonesia akan mendorong pertandingan olahraga Indonesia menjadi tontonan masyarakat melalui televisi nasional.
Akan menguatkan investasi masyarakat melalui olahraga hingga PON PAPUA tidak seperti PON-PON sebelumnya yang sepi penonton. Juga semoga kegelisahan Iwan Fals, kegelisahan teman-teman di jambi akan segera terjawab.

Adwin WP. ( Photo istimewa )
Penulis Adwin WP, adalah Pendiri organisasi IKPORI, Ikatan Kru Pagelaran Olahraga Indonesia: 839/IV/P/I/2015, Suku Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Jakarta Timur.






