INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Pendidikan, Anies Rasyid Baswedan, melalui serangkaian unggahan di media sosial, menekankan pentingnya empati dalam memahami dan menanggapi isu kemiskinan. Ia menolak pendekatan yang menghakimi dan menekankan perlunya pemahaman terhadap akar permasalahan yang dihadapi masyarakat miskin.
Anies menanggapi berbagai komentar dan pertanyaan yang muncul setelah ia menyampaikan refleksi tentang kisah-kisah masyarakat yang berjuang dalam kemiskinan. Ia menegaskan bahwa empati bukanlah bentuk pembenaran atau romantisisasi kemiskinan, melainkan upaya untuk memahami konteks dan respons terhadap sistem yang bermasalah.
“Empati itu memahami alih-alih menghakimi. Supaya kita tahu apa yang terlihat ‘masalah’ seringkali adalah respons terhadap sistem yang lebih dulu bermasalah,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang solusi konkret, Anies merujuk pada visi-misi yang pernah ia tawarkan dalam kampanye sebelumnya, yang mencakup berbagai aspek, mulai dari ekonomi keluarga hingga keadilan antargenerasi. Ia juga menyoroti pengalamannya selama memimpin Jakarta, di mana ia menerapkan pendekatan sistemik dalam mengatasi kemiskinan.
“Di Jakarta, pendekatannya adalah, mulai dari cari akar masalah, dituntun oleh empati, lalu diselesaikan lewat sistem. Bukan sekadar karitatif atau performatif. Karena kemiskinan itu struktural, maka solusinya tentu juga harus sistemik,” jelasnya.
Anies memberikan contoh program-program yang dijalankan di Jakarta, seperti perluasan kepesertaan BPJS, program Kartu Lansia Jakarta, Jaklingko gratis, Jakpreneur, subsidi pendidikan, dan penyediaan ruang publik yang setara. Ia menekankan bahwa program-program tersebut dirancang berdasarkan pemahaman terhadap akar masalah yang dihadapi masyarakat miskin.
“Itulah contoh-contoh program yang dulu dihadirkan, dimulai dari empati, disusun secara sistematis. Masih banyak yang lain: berbagai bansos, revitalisasi kampung, hingga perlindungan untuk kelompok rentan. Tentu masih banyak ruang untuk perbaikan. Keadilan sosial itu perjuangan panjang,” ungkapnya.
Anies menutup rangkaian unggahannya dengan mengajak masyarakat untuk memandang kemiskinan dengan welas asih, bukan cemoohan. Ia menekankan bahwa hidup yang bermartabat adalah hak semua orang.*






