INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais, kembali melontarkan kritik tajam terhadap fenomena yang ia sebut sebagai “prostitusi intelektual” di tengah kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Dalam sebuah refleksi publik yang sarat nada otokritik, Amien mengajak kaum intelektual, akademisi, dan jurnalis untuk menegakkan integritas dan kembali ke jalan kebenaran serta keadilan multidimensional.
Amien Rais menegaskan, setiap bangsa pasti melahirkan golongan intelektual yang menerima anugerah ilmu pengetahuan dari Allah SWT untuk menegakkan keadilan sejati bagi masyarakat. Menurut Amien, peran kaum cerdik cendekia—atau dalam istilah Syariati disebut “rausan fakir” (enlightened intellectual)—adalah memperjuangkan keadilan hukum, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga keadilan kesempatan.
Namun, Amien mengatakan, ada dua tipe intelektual: intelektual ideal yang tetap membela nurani dan tak tergoda jual diri, dan intelektual “gombal dan rongsokan” yang rela menjadi pelacur intelektual demi materi dan kekuasaan.
“Intelektual ideal tidak pernah mau menjadi pelacur. Sedangkan intelektual gombal menjual dirinya pada kekuasaan atau korporasi, mudah uangnya, besar risikonya,” ujar Amien Rais lewat akun YouTube-nya, Kamis (17/7/2025).
Amien juga menyorot peran media dan wartawan, yang sewajarnya berfungsi sebagai intelektual publik, namun rawan tergelincir menjadi penyebar hoaks, misinformasi, hingga disinformasi demi kepentingan penguasa. Ia mengutip John Swinton, mantan editor New York Times, yang pernah menyamakan profesi wartawan yang kehilangan integritas sebagai “intellectual prostitutes”—alat di tangan segelintir pemilik modal.
Tak berhenti di situ, Amien menyentil maraknya fenomena “buzzer berbayar” di era kekuasaan, yang stoknya bahkan ada hingga ke kalangan S3. Mereka ini, sindir Amien, bagai “berharap dilirik kekuasaan” meski kekuasaan yang dibela sudah kian “meleleh seperti es krim di bawah matahari.”
Secara khusus, Amien mengangkat pengalaman pribadinya di kampus UGM, yang menurutnya pernah menjadi “sarang Jokower” hingga muncul upaya mendiskreditkan dirinya secara akademis. Namun, menurutnya, fenomena tersebut kini mulai pudar seiring banyaknya “mantan pemuja Jokowi” yang kini berbalik arah.
Di akhir pesannya, Amien Rais menyerukan kembali pentingnya integritas dan prinsip bagi kaum intelektual dan jurnalis di era demokrasi. “Jangan biarkan diri Anda menjadi pelacur intelektual. Hidup cuma sekali, jangan sampai salah jalan,” pesan Amien.
Amien Rais mengingatkan bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada kejujuran dan keberanian intelektual-cerdik cendekia yang tercerahkan, bukan mereka yang dengan mudah menjual nurani untuk uang dan kekuasaan. Di tengah derasnya pragmatisme dan kapitalisasi dunia pengetahuan, suara moral seperti ini menjadi pengingat agar bangsa tidak kehilangan kompas etika serta kebenaran.






