INAnews.co.id, Jakarta– Direktur Eksekutif Ghirras For Society Development (GHIRASS), Haitham Mahmoud, menyampaikan data mengejutkan tentang dampak devastatif konflik Gaza yang telah berlangsung selama 711 hari sejak 7 Oktober 2023. Dalam presentasinya bertajuk “Konteks Kemanusiaan Umum antara Gaza dan Lebanon”, Mahmoud mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa 90 persen wilayah Gaza telah hancur total.
Data yang dipresentasikan Mahmoud menunjukkan angka korban yang sangat tinggi, dengan lebih dari 64.718 korban jiwa dan luka-luka sejak Oktober 2023. Yang paling memprihatinkan, lebih dari 20.000 anak-anak telah menjadi korban tewas, termasuk 1.009 bayi di bawah usia satu tahun.
“Dari 1.009 bayi yang syahid, 450 di antaranya lahir dan terbunuh selama perang berlangsung,” ungkap Mahmoud, menyoroti tragedi kemanusiaan yang menimpa generasi termuda Palestina dalam Media Gathering di Gedung Dewan Da’wah, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2025).
Sektor kesehatan Gaza mengalami kehancuran total dengan 38 rumah sakit dan 96 pusat layanan kesehatan primer yang tidak berfungsi akibat serangan. Lebih mengejutkan lagi, 197 ambulans telah menjadi target serangan, menunjukkan sistemnya penghancuran infrastruktur medis.
Di bidang pendidikan, dampaknya tidak kalah mengerikan. Sebanyak 13.500 siswa tewas, sementara 785.000 siswa kehilangan akses pendidikan. Mahmoud menyebutkan bahwa 95 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan fisik dan 830 guru serta staf pendidikan tewas selama konflik.
Salah satu revelasi paling mengejutkan dalam presentasi Mahmoud adalah konsep “pusat bantuan mematikan” yang didirikan Israel. Pusat-pusat ini diklaim mendistribusikan bantuan makanan, namun berada di area yang dikontrol tentara Israel dimana siapa pun yang mendekat berisiko tertembak.
“Kebijakan Israel menghancurkan sumur air minum, meninggalkan kawah dalam di Wadi Gaza yang menjadi jebakan mematikan bagi warga sipil,” jelasnya, mengutip kesaksian Dr. Bara Al-Attar yang menyebut tingkat kelangsungan hidup korban kawah hanya 3-4 persen.
Mahmoud menceritakan tiga kisah tragis warga yang terjebak antara kelaparan dan kematian saat berusaha mengakses bantuan makanan, termasuk kisah Imad al-Balbisi yang patah panggul setelah terjatuh ke kawah saat mencari makanan untuk keempat anaknya.
Tidak hanya Gaza, Mahmoud juga menyoroti krisis kemanusiaan di Lebanon yang memperparah kondisi pengungsi Palestina. Mata uang Lebanon telah kehilangan 95 persen nilainya sejak 2019, dengan upah minimum turun drastis dari $450 menjadi hanya $17 per bulan.
“Pada tahun 2025, 4,1 juta orang di Lebanon membutuhkan bantuan kemanusiaan, dengan 93% pengungsi Palestina hidup dalam kemiskinan,” ungkap Mahmoud, menekankan kompleksitas krisis regional.
Presentasi yang didukung data dari berbagai sumber internasional termasuk PBB, WHO, UNICEF, dan Bank Dunia ini menjadi seruan keras untuk perhatian dunia internasional terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Dengan mengakhiri presentasinya, Mahmoud berterima kasih kepada audiens “telah menjadi bagian dari momen ini,” sembari berharap data-data yang disampaikan dapat membuka mata dunia terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza dan Lebanon, serta serah terima bantuan dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) sebesar Rp100 juta.
Ghirras For Society Development (GHIRASS) adalah organisasi yang fokus pada pengembangan masyarakat dan advokasi isu-isu kemanusiaan. Data yang dipresentasikan dari berbagai sumber, seperti dari OCHA PBB.






