INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani “menohok” para alumni Timur Tengah Indonesia yang menurutnya terlalu nyaman berada di zona dakwah dan enggan memasuki sektor ekonomi. Padahal, potensi bisnis dengan negara-negara Timur Tengah sangat menggiurkan dan bisa bernilai triliunan rupiah.
“Mayoritas alumni Timur Tengah bergerak di dunia dakwah. Tapi jarang sekali yang bergerak di bidang ekonomi. Padahal, dakwah itu perlu dibiayai,” tegas Muzani di hadapan ratusan alumni Timur Tengah dalam acara Silaturahmi dan Musyawarah Nasional ke-2 Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Sabtu (27/9/2025).
Muzani mengungkap fenomena menarik tentang alumni Timur Tengah yang memiliki tiga kekhasan dibanding alumni luar negeri lainnya. “Pertama, alumni Timur Tengah rata-rata bertubuh besar. Kedua, lebih religius dari orang Indonesia umumnya. Ketiga, dalam keluarga dianggap kiai,” ujar politisi Gerindra itu.
Kombinasi tiga karakter inilah yang menurutnya membuat alumni Timur Tengah terjebak dalam “comfort zone” dunia dakwah dan religi, serta abai terhadap peluang ekonomi yang menggiurkan.
Ketua MPR membuka tabir peluang bisnis spektakuler yang sedang menanti. Mesir berencana membangun kawasan industri Port Said dengan kepemilikan 50:50 bersama Indonesia.
“Port Said akan mengolah seluruh produk setengah jadi dari Indonesia untuk ekspor ke Afrika dan Eropa. Bayangkan potensi pasarnya!” seru Muzani antusias.
Tidak hanya itu, Mesir juga akan menjadi gerbang impor produk Indonesia seperti minyak goreng, sekaligus mengekspor kurma dan mangga ke Tanah Air.
“Indonesia impor kurma dari Mesir. Padahal saat Ramadan, kebutuhan kurma melonjak drastis untuk buka puasa. Ini peluang bisnis yang tidak pernah surut,” jelasnya.
Sementara itu, Qatar tengah membuka peluang impor besar-besaran dari Indonesia. Negara kaya minyak ini membutuhkan AC, susu, buah, sayur, dan berbagai produk konsumsi lainnya.
“Pasca COVID-19, Qatar langsung beradaptasi dan membuka peluang lebih lebar. Ini momentum emas bagi Indonesia,” ungkap Muzani.
Yang membuat Muzani “gemas” adalah kenyataan bahwa alumni Timur Tengah sebenarnya memiliki “kartu as” berupa jaringan kuat di negara-negara tersebut.
“Mereka punya akses lancar di pasar internasional, punya jaringan teman di sana. Tapi malah tidak dimanfaatkan untuk bisnis,” keluhnya.
Muzani menekankan alumni Timur Tengah tidak boleh hanya fokus pada urusan haji dan umrah, tapi harus berani merambah sektor ekonomi lainnya.
Ketua MPR juga melayangkan pesan tegas kepada pemerintah mendatang untuk tidak menyia-nyiakan potensi ini.
“Pemerintah harus mendorong kerjasama internasional untuk kesejahteraan berkelanjutan. Alumni Timur Tengah bisa jadi motor penggerak ekonomi Indonesia di kawasan tersebut,” tegasnya.
Muzani mengakui alumni Timur Tengah umumnya mandiri secara ekonomi dan pendidikan. “Tapi dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, masih perlu ditingkatkan. Jangan hanya jadi ‘pemain tunggal’,” tandasnya.
JATTI sebagai wadah alumni Timur Tengah diharapkan menjadi katalis transformasi dari “zona nyaman dakwah” menuju “zona produktif ekonomi” yang menguntungkan semua pihak.
Acara Munas ke-2 JATTI dihadiri ratusan alumni dari Arab Saudi, Mesir, Yordania, Suriah, dan negara Timur Tengah lainnya yang kini berdomisili di Indonesia. Muzani membuka acara Silaturahmi dan Musyawarah Nasional ke-2 yang berlangsung hari ini hingga esok.






