INAnews.co.id, Jakarta– Dalam sikap yang kontradiktif, Presiden KSPI Said Iqbal mengkritik pencarian “kambing hitam” untuk Polri dalam kerusuhan, namun di sisi lain menyebarkan teori konspirasi tentang dalang di balik kerusuhan.
“Jangan mencari kambing hitam kemudian mengatasnamakan reformasi kepolisian,” ujar Said Iqbal membela Polri saat konferensi pers, Senin (15/9/2025).
Namun di pernyataannya, ia justru menciptakan kambing hitam baru dengan menduga “mafia minyak”, “mafia kelapa sawit ilegal”, dan “mafia tambang ilegal” sebagai dalang kerusuhan.
“Patut diduga mereka melakukan serangan balik untuk melumpuhkan kebijakan Presiden Prabowo,” katanya tanpa memberikan bukti apa pun.
Said Iqbal begitu defensif membela Kapolri Listyo Sigit hingga mengabaikan fakta adanya korban jiwa dalam demonstrasi. Ia lebih fokus memuji jasa-jasa Kapolri dalam memfasilitasi dialog dengan buruh daripada mengakui kegagalan dalam penanganan crowd control.
“Ada 46 orang juga anggota yang luka,” katanya, seolah-olah korban di pihak aparat lebih penting daripada korban sipil.
Said Iqbal berargumen bahwa reformasi kepolisian tidak boleh dilakukan saat “negara menghadapi ancaman keamanan” karena akan “melemahkan dan demoralisasi anggota kepolisian.”
Logika ini terdistorsi karena justru saat terjadi masalah keamananlah evaluasi dan perbaikan sistem paling dibutuhkan. Kapan lagi waktu yang tepat untuk memperbaiki kepolisian jika bukan saat kinerjanya dipertanyakan?
Mengapa KSPI begitu protektif terhadap Kapolri? Apakah ada deal tertentu di balik dukungan ini? Dan mengapa organisasi yang seharusnya memperjuangkan transparansi justru menentang akuntabilitas institusi keamanan?
Sikap tersebut menimbulkan keraguan terhadap integritas dan independensi KSPI sebagai organisasi masyarakat sipil.






