Menu

Mode Gelap
Parpol di Indonesia Dinilai Bukan Partai Sejati, Melainkan “Perusahaan Keluarga” Mengapa Kasus Pidana Pemilu Jarang Diproses? Ahli Ungkap Sistem “Berputar-putar” Ketujuh Komisioner KPU Pernah Dihukum karena Pelanggaran Etika Ahli: Sistem Pilkada Lewat DPRD Justru Picu Transaksi Politik Lebih Parah Prabowo Pernah Sebut Cagub Harus Siapkan Rp300 Miliar Maju Pilkada BAT Bank Akui Dana USD 1 Juta Dikuasai, CWIG Ultimatum Pengembalian Secepatnya

POLITIK

Kekecewaan PPP kepada Jokowi Jelang Pemilu 2024 Diungkap Mardiono

badge-check


					Foto: M Mardiono/tangkapan layar Perbesar

Foto: M Mardiono/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhamad Mardiono mengaku kecewa dengan sikap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dinamika politik menjelang Pemilu 2024. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara dengan Akbar Faizal di kanal YouTube “Akbar Faizal Uncensored” yang diunggah Selasa (21/10/2025).

“Kecewa sudah pasti,” tegas Mardiono ketika ditanya apakah merasa dikecewakan oleh Jokowi yang dianggap dekat dengannya. Ia mengungkapkan bahwa sebelum PDIP mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden, dirinya masih blusukan bersama Jokowi ke Pasar Fatmawati dan Depok dalam satu mobil.

“Saya masih berbincang-bincang soal politik di dalam mobil. Dan pada saat itu dia masih mengatakan bahwa kita adalah berteman,” kenang politisi asal Banten itu.

Namun, Mardiono memahami dinamika politik dengan filosofi yang ia yakini: “Politik itu tidak ada kawan, tidak ada lawan. Yang ada adalah kepentingan.”

Terkait kegagalan PPP lolos parliamentary threshold pada Pemilu 2024, Mardiono menegaskan kesediaannya bertanggung jawab penuh, meski dengan catatan khusus.

“Saya bertanggung jawab seluruhnya. Tetapi dalam politik, pertanggungjawaban dalam pemilu itu tidak seperti pertanggungjawabkan pemain bola untuk menendang penalti,” jelasnya memberi analogi.

Mardiono yang hanya memimpin PPP selama 1 tahun 4 bulan menjelang pemilu mengakui banyak kendala yang dihadapi, termasuk keterbatasan logistik dan waktu persiapan yang singkat. Ia bahkan meyakini PPP sebenarnya mendapat suara lebih dari 6 juta, bukan 5,8 juta yang tercatat resmi.

Dalam wawancara tersebut, Mardiono juga membenarkan tudingan adanya pengalihan suara PPP ke partai lain, khususnya PSI. “Di berbagai TPS yang saya lakukan investigasi, ada suara-suara yang aneh di mana PPP di situ hilang tetapi ada partai tertentu tiba-tiba melonjak tinggi,” ungkapnya.

Namun ia mengakui kesulitan membuktikan dugaan tersebut secara hukum karena kelemahan PPP dalam disiplin administrasi dan pengawalan saksi di setiap tingkatan pemungutan suara.

Mardiono dengan tegas membantah isu adanya kesepakatan bahwa ia akan menyerahkan jabatan ketua umum kepada Agus Suparmanto setelah 6 bulan jika ditarik menjadi Wantimpres.

“Tidak benar. Kalau itu seperti menggadaikan harkat martabat hidup saya,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa struktur kepengurusan hasil Muktamar ke-10 di Ancol akan berlangsung sesuai masa bakti 5 tahun.

Politisi yang mengaku tidak pernah mencalonkan diri menjadi ketua umum ini menambahkan, “Jabatan ini haram hukumnya buat saya beli. Ini adalah amanah yang harus saya laksanakan.”

Mardiono menargetkan PPP bisa meraih 26 kursi DPR pada Pemilu 2029 dengan memaksimalkan potensi di berbagai daerah basis seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Parpol di Indonesia Dinilai Bukan Partai Sejati, Melainkan “Perusahaan Keluarga”

14 Januari 2026 - 12:20 WIB

Mengapa Kasus Pidana Pemilu Jarang Diproses? Ahli Ungkap Sistem “Berputar-putar”

14 Januari 2026 - 10:15 WIB

Ketujuh Komisioner KPU Pernah Dihukum karena Pelanggaran Etika

14 Januari 2026 - 08:10 WIB

Populer NASIONAL