INAnews.co.id, Jakarta– Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memperingatkan Indonesia tengah menerapkan “Leviathan Economics”—ekonomi komando militer yang pada akhirnya akan “memakan tuannya sendiri”, yakni pembayar pajak.
“Lihat MBG, yang mengerjakan cuma tiga: dapurnya TNI, Polri, dan keluarga politisi. Tidak ada UMKM. Di food estate juga militer yang mengontrol. Ini bukan ekonomi kerakyatan, tapi ekonomi fasis,” tegas Bhima dalam diskusi di ICW, Selasa (18/11/2025).
Bhima menjelaskan mahasiswa sudah direpres sejak meja HRD. “Represi bukan cuma saat demo, tapi saat melamar kerja. CV tanpa chat TNI/Polri susah bersaing dapat jadi penyedia MBG,” katanya.
Yang lebih mengkhawatirkan, anggaran pertahanan 2021-2026 naik 166,5 persen sementara perlindungan sosial hanya 2,4 persen.
“Setiap beli permen, seperempatnya untuk bayar bunga utang. ICW beli mikrofon, seperempatnya juga untuk bunga utang. Harus ikhlas,” sindir Bhima.
Ia memprediksikan krisis ekonomi 2026 jika pola ini berlanjut: “Tanpa syok eksternal pun, ekonomi sudah rusak karena salah kelola. Fundamental kita lebih rapuh dari 1997.”






