INAnews.co.id, Jakarta– Berbagai lembaga menilai pemerintahan Prabowo-Gibran setahun hanya 3 dari 10, bahkan ICW memberi nilai 0 dari 100. Ekonom CELIOS Bhima Yudhistira menegaskan: “Tanpa kita bersuara pun, ekonomi fasis ini akan memakan tuannya sendiri.”
Data yang dipaparkan Bhima menunjukkan: rupiah terus melemah meski disuntik Rp200 triliun, arus dana asing ke Indonesia paling rendah dibanding Malaysia-Thailand, investasi turun, dan 27 smelter tutup.
“Pertanyaannya bukan apakah ekonomi tumbuh 8 persen, tapi apa yang membuat kita yakin ekonomi tetap tumbuh 5 persen tahun depan? Jawabannya: belum ada,” tegas Bhima.
Anggaran 2026 menunjukkan prioritas yang salah: 35 persen anggaran pendidikan untuk MBG, sementara guru honorer dan mahasiswa beasiswa terancam. Anggaran pertahanan naik 166,5 persen, perlindungan sosial hanya 2,4 persen.
“Setiap pajak yang kita bayar tidak jadi lapangan kerja, tapi untuk: proyek mangkrak Jokowi, kereta cepat yang disubsidi terus, dan militerisasi sipil. Ruang fiskal habis untuk bayar bunga utang Rp635 triliun,” papar Bhima.
Ia memperingatkan tanda-tanda krisis sudah dekat: “Kalau ada guncangan eksternal 2026, bisa lebih buruk dari krisis 1997.”






