Menu

Mode Gelap
Mantan Komisioner KPK Menyoal Kasus Febrie Perhatikan Kondisi Ban, Jangan Mengendarai Kendaraan Dengan Kondisi Ban Gundul..Sangat Berbahaya…!!! Emisi Satu Orang Kaya Bisa Setara Ribuan Warga Miskin Elektabilitas Prabowo Anjlok Bencana Bukan Salah Alam Presiden Prabowo Instruksikan BMKG Perkuat Kesiapan Langkah Hadapi Kemarau dan El Nino

POLITIK

Paradigma Pembangunan Indonesia: Rakyat Dijadikan Penonton

badge-check


					Foto: dok. ilmuekonomiid Perbesar

Foto: dok. ilmuekonomiid

INAnews.co.id, Jakarta– Anies Baswedan mengkritik keras paradigma pembangunan Indonesia yang menempatkan rakyat sebagai penonton, bukan pelaku pembangunan.

“Hari ini dengan semangat ABCD kita selesaikan itu. Oke. Anda nonton aja bayar pajak, nyoblos saat pemilu, habis itu enggak usah ikut-ikut,” kata Anies menggambarkan sikap pemerintah saat ini dalam Catalyst Impact Forum 2025 di Bandung, 3 Desember 2025.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjelaskan, pergeseran dari pendekatan gerakan (movement) ke pendekatan programatik terjadi sejak tahun 1950-an ketika dana bantuan internasional masuk Indonesia.

“Sejak dana bantuan internasional datang di seluruh dunia. Namanya developmentalism. Uangnya ada, programnya ada, alat ukurnya ada, sumber daya ada, ukur kinerjanya rakyat menonton,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, sebelum era tersebut, Indonesia menganut prinsip swadaya, swakarsa, swadana yang menjadikan pembangunan sebagai gerakan bersama. Namun begitu ada sumber daya dari luar, partisipasi rakyat tergeser.

“Sebelumnya swadaya, swakarsa, swadana sehingga pendekatannya movement. Begitu ada sumber daya yang terlibat itu tergeser. Kita enggak lagi terlibat karena negara sudah punya sumber daya,” jelasnya.

Anies menekankan, pendekatan programatik membuat negara mengerjakan pembangunan sendirian, sementara rakyat hanya menonton. Berbeda dengan pendekatan movement yang mengajak semua pihak merasa memiliki dan menyelesaikan masalah bersama.

“Pendekatan programatik adalah kita terpanggil untuk menyelesaikan masalah. Lalu kita mengumpulkan sumber daya untuk menyelesaikan masalah itu. Dikerjakannya sendiri,” katanya.

Sementara pendekatan movement memiliki KPI berbeda: semakin banyak pihak terlibat, semakin baik. “Kalau pendekatan movement, tujuan pertama adalah membuat semua orang merasa memiliki masalah. Begitu terlibat menjadi banyak, maka solusi akan sustainable,” tegasnya.

Anies mengajak semua pihak mengembalikan pembangunan sebagai gerakan, seperti yang dilakukan founding fathers Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Elektabilitas Prabowo Anjlok

30 Juli 2026 - 15:30 WIB

Bencana Bukan Salah Alam

30 Juli 2026 - 13:29 WIB

Mengenal “Kabinet Bayangan”: Bakal Beri “Kejutan” untuk Prabowo

28 Juli 2026 - 14:43 WIB

Populer POLITIK