INAnews.co,id, Jakarta- Sektor hilirisasi menjadi kontributor signifikan dalam realisasi investasi Indonesia 2025 dengan nilai Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total investasi nasional. Capaian ini melonjak 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan hilirisasi tidak lagi hanya terkonsentrasi pada mineral, tetapi mulai meluas ke sektor perkebunan, kehutanan, dan perikanan. “Kalau dulu realisasi investasi hilirisasi sekitar 25 persen, sekarang sudah di level 30 persen. Ini menunjukkan tren yang terus meningkat,” ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (15/1/2026).
Khusus triwulan IV-2025, investasi hilirisasi mencapai Rp152,6 triliun atau 30,7 persen dari total investasi periode tersebut, tumbuh 42,6 persen year on year. PMA masih mendominasi sektor ini dengan 73,5 persen atau Rp429,6 triliun, sementara PMDN menyumbang 26,5 persen.
Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi lokasi utama investasi hilirisasi, terutama untuk nikel. Dampak ekonominya terukur jelas – pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah mencapai 8 persen, jauh di atas rata-rata nasional 5 persen. Maluku Utara bahkan tumbuh lebih dari 20 persen.
Singapura menjadi investor terbesar di sektor hilirisasi dengan USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Rosan menyebut tahun 2026 akan menjadi tahun akselerasi hilirisasi di sektor-sektor baru. “Di perkebunan nilai investasinya Rp82,3 triliun. Perikanan akan meningkat signifikan tahun ini, terutama tuna, cakalang, tongkol. Bauksit juga akan naik dengan empat pabrik aluminium yang akan mulai beroperasi,” jelasnya.






