INAnews.co.id, Jakarta– Ketidakadilan dalam industri kelapa sawit Indonesia terungkap melalui data yang dipaparkan Anies Baswedan. Petani kecil berkontribusi sepertiga dari total produksi sawit nasional, namun kesejahteraan mereka nyaris tidak meningkat.
“Petani kecil kebagian produksinya, tapi tidak kebagian kesejahteraannya,” ujar Anies dalam Rakernas I Gerakan Rakyat, Jumat (17/1/2026).
Dari nilai industri sawit global senilai 285 miliar dolar AS, dua pertiga dinikmati oleh perusahaan besar di hilir. Sementara petani di hulu yang bekerja keras justru tidak mendapat bagian proporsional dari keuntungan tersebut.
Yang lebih ironis, petani kecil dan rakyat di kawasan perkebunan justru harus menanggung konsekuensi ekologis ketika terjadi bencana. “Ketika banjir melanda, rumah yang hancur bukan rumah direksi perusahaan di hilir, tapi rumah rakyat dan petani,” tegas Anies.
Kondisi ini disebutnya sebagai ketidakadilan ekologis, di mana pihak yang merusak mendapat untung namun tidak menanggung beban kerusakan, sementara pihak yang tidak merusak justru harus menanggung konsekuensinya.
Anies menekankan perlunya reformasi sistem distribusi dalam industri sawit. “Petani harus dapat harga yang adil. Masyarakat adat harus diakui haknya. Dan rakyat kecil harus dilindungi, dikuatkan, dibesarkan,” tegasnya.
Ia juga membantah argumen bahwa kritik terhadap sawit berarti anti terhadap produk turunannya. “Sawit juga punya porsi dalam perekonomian kita dan kita membutuhkan, tetapi tempatnya bukan di atas puing-puing hutan primer yang dibabat habis,” pungkasnya.






