Menu

Mode Gelap
Mempertanyakan Pertanggungjawaban Dana Jaminan Reklamasi Tambang UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan Deforestasi Legal Lebih Besar dari Ilegal Sidang Sengketa Lahan di Desa Sea Memanas, Saksi Ungkap Fakta Mengejutkan, BPN Diduga Terlibat Pemalsuan Data Auriga: Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dinilai “Pura-Pura” Ekspansi PLTG Berpotensi Membebani Masyarakat

ENERGI

Transisi Energi Indonesia Terancam Gagal

badge-check


					Foto: Sugeng Suparwoto/tangkapan layar Perbesar

Foto: Sugeng Suparwoto/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Target ambisius pemerintah untuk mencapai 76 persen energi baru terbarukan (EBT) dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dinilai terlalu obsesif dan berisiko gagal, mengingat realisasi bauran EBT saat ini baru mencapai 15,7 persen dari target 23 persen di 2025.

Wakil Ketua Komisi 12 DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan kekhawatirannya dalam diskusi INDEF, Selasa (27/1/2026). “Saya agak kaget karena dulu tidak 76 persen dalam diskusi-diskusi kami, hanya 58 persen saja. Kok tiba-tiba melompat setinggi itu,” ujarnya.

Anggota Dewan Energi Nasional Khalid Syairazi menambahkan, target bauran EBT yang tidak pernah tercapai sejak era PPKEN lama menunjukkan kesenjangan antara perencanaan dan implementasi. “Sejak zaman PSB, semua target transisi energi tidak pernah tercapai. Musuh dari transisi energi yang pertama adalah political will,” tegasnya.

RUPTL terbaru menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW hingga 2034, dengan 76 persen berasal dari EBT dan penyimpanan energi (storage). Namun, realisasi di lapangan masih didominasi energi fosil yang mencapai 85 persen dari total 107 GW kapasitas terpasang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ekspansi PLTG Berpotensi Membebani Masyarakat

29 Januari 2026 - 13:57 WIB

Subsidi Energi Fosil Rp400 Triliun Hambat Perkembangan EBT

29 Januari 2026 - 11:57 WIB

2026: Data Center dan Energi Terbarukan Jadi Sektor Prioritas Investasi

19 Januari 2026 - 17:55 WIB

Populer ENERGI