INAnews.co.id, Jakarta– Target ambisius pemerintah untuk mencapai 76 persen energi baru terbarukan (EBT) dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dinilai terlalu obsesif dan berisiko gagal, mengingat realisasi bauran EBT saat ini baru mencapai 15,7 persen dari target 23 persen di 2025.
Wakil Ketua Komisi 12 DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan kekhawatirannya dalam diskusi INDEF, Selasa (27/1/2026). “Saya agak kaget karena dulu tidak 76 persen dalam diskusi-diskusi kami, hanya 58 persen saja. Kok tiba-tiba melompat setinggi itu,” ujarnya.
Anggota Dewan Energi Nasional Khalid Syairazi menambahkan, target bauran EBT yang tidak pernah tercapai sejak era PPKEN lama menunjukkan kesenjangan antara perencanaan dan implementasi. “Sejak zaman PSB, semua target transisi energi tidak pernah tercapai. Musuh dari transisi energi yang pertama adalah political will,” tegasnya.
RUPTL terbaru menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW hingga 2034, dengan 76 persen berasal dari EBT dan penyimpanan energi (storage). Namun, realisasi di lapangan masih didominasi energi fosil yang mencapai 85 persen dari total 107 GW kapasitas terpasang.






