INAnews.co.id, Jakarta– Singkawang adalah sebuah kota di pesisir barat Pulau Kalimantan yang tumbuh sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya, etnis, dan keyakinan. Kota ini bukan sekadar wilayah administratif di Provinsi Kalimantan Barat, melainkan juga cermin bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Dari jalan-jalan kota hingga perayaan tradisi besar, Singkawang menghadirkan cerita tentang toleransi, sejarah panjang, dan identitas yang terus dirawat oleh warganya.
Letak geografis Singkawang cukup strategis. Kota ini berada sekitar 145 kilometer dari Pontianak dan menghadap langsung ke Laut Natuna. Posisi tersebut sejak lama menjadikan Singkawang sebagai daerah persinggahan dan permukiman berbagai kelompok masyarakat. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini berkembang pesat seiring datangnya para perantau, terutama dari etnis Tionghoa, yang kemudian hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu dan Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan Barat. Dari proses inilah terbentuk wajah Singkawang yang majemuk hingga hari ini.
Salah satu julukan yang paling melekat pada Singkawang adalah “Kota Seribu Klenteng”. Julukan ini bukan sekadar simbolik, melainkan gambaran nyata dari banyaknya klenteng yang berdiri dan terawat di berbagai sudut kota. Keberadaan klenteng-klenteng tersebut menjadi penanda kuat pengaruh budaya Tionghoa, khususnya subetnis Hakka, yang telah berakar selama ratusan tahun. Namun menariknya, keberagaman rumah ibadah di Singkawang tidak berhenti pada klenteng semata. Masjid, gereja, dan tempat ibadah lain berdiri berdampingan tanpa sekat sosial yang tajam, memperlihatkan praktik toleransi yang hidup dan membumi.
Kehidupan sosial masyarakat Singkawang berjalan dalam suasana saling menghormati. Perbedaan agama dan latar belakang etnis tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam aktivitas kemasyarakatan. Dalam berbagai perayaan keagamaan, warga dari latar belakang berbeda kerap saling membantu, baik dalam aspek keamanan, logistik, maupun sekadar menjaga kenyamanan bersama. Nilai-nilai inilah yang membuat Singkawang kerap disebut sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Dari sisi budaya, Singkawang dikenal luas berkat perayaan Cap Go Meh yang digelar setiap tahun. Perayaan ini menjadi puncak rangkaian Tahun Baru Imlek dan selalu menarik perhatian publik. Ribuan orang memadati jalan-jalan utama kota untuk menyaksikan arak-arakan dan atraksi budaya yang sarat makna. Ikon utama Cap Go Meh Singkawang adalah pertunjukan Tatung, sebuah tradisi budaya-spiritual yang menampilkan individu-individu terpilih dengan ritual khusus. Atraksi ini tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga menyimpan nilai historis dan kepercayaan yang diwariskan lintas generasi.
Cap Go Meh bukan sekadar agenda budaya, melainkan juga penggerak sektor pariwisata. Setiap tahun, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara datang ke Singkawang untuk menyaksikan langsung kemeriahan tersebut. Dampaknya terasa nyata bagi perekonomian lokal, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku usaha kecil. Momentum ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi daerah.
Selain wisata budaya, Singkawang juga memiliki potensi wisata alam yang tidak kalah menarik. Wilayah pesisir menghadirkan pantai-pantai yang masih alami, sementara kawasan perbukitan di sekitarnya menawarkan panorama hijau yang menenangkan. Kombinasi wisata alam dan budaya menjadikan Singkawang sebagai destinasi yang lengkap, cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan sekaligus memahami keragaman budaya lokal.
Kuliner Singkawang juga menjadi bagian penting dari identitas kota. Perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu melahirkan ragam makanan khas dengan cita rasa yang unik. Olahan mie, aneka kue tradisional, hingga hasil laut segar menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat kuliner. Makanan-makanan tersebut tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga merepresentasikan sejarah percampuran budaya yang telah berlangsung lama.
Di tengah arus modernisasi, Singkawang tetap berupaya menjaga jati dirinya. Pembangunan kota dilakukan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya dan sosial yang telah mengakar. Tradisi diwariskan kepada generasi muda melalui keluarga, komunitas, dan berbagai kegiatan budaya. Dengan cara ini, Singkawang tidak kehilangan ruhnya sebagai kota multikultural yang ramah dan terbuka.
Pada akhirnya, Singkawang adalah kisah tentang Indonesia dalam skala kota. Ia memperlihatkan bahwa perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang dapat dirawat bersama. Harmoni yang terbangun di Singkawang menjadi contoh nyata bahwa toleransi bukan sekadar slogan, tetapi praktik hidup yang tumbuh dari kesadaran bersama. Kota ini terus melangkah ke depan, membawa warisan budaya, semangat kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang inklusif. Seputar lingkungan bisa akses: DLH Kota Singkawang.*






