INAnews.co.id, Jakarta- Direktur Pengembangan Big Data INDEF Eko Listiyanto menilai pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen pada 2025 gagal memenuhi target yang ditetapkan pemerintahan sebelumnya di angka 5,2 persen. Kegagalan ini menandai lebih dari satu dekade berturut-turut Indonesia tidak mencapai target pertumbuhan ekonomi.
Eko menyoroti bahwa performa periode transisi pemerintahan Prabowo jauh berbeda dengan transisi kepemimpinan sebelumnya. “Kalau kita lihat transisi dari Bu Megawati ke Pak SBY tahun 2004-2005, ekonomi mampu tumbuh 5,6 persen, bahkan di atas target 5,4 persen. Ini kondisi yang bisa kita katakan menghijau,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, APBN 2025 yang didesain pemerintahan Jokowi namun dijalankan oleh pemerintahan Prabowo menghasilkan pertumbuhan yang belum mencapai target. Kondisi serupa juga terjadi pada awal era Jokowi tahun 2014-2015 yang bahkan turun di bawah 5 persen persen.
Eko mengidentifikasi tekanan konsumsi rumah tangga sebagai masalah utama. Konsumsi hanya tumbuh 4,98 persen, masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. “Padahal dulu konsumsi rumah tangga itu biasanya setidaknya sama atau bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Ini menggambarkan daya beli yang masih tertekan,” jelasnya.
Dari sisi komponen, ekspor dan investasi (PMTB) memberikan kontribusi positif. Namun sektor industri yang tumbuh signifikan justru menimbulkan kekhawatiran baru terkait gelombang PHK yang terus terjadi sepanjang 2025, kemungkinan akibat transformasi ke industri padat modal berbasis mesin.
Bencana alam di Sumatera yang terjadi di triwulan 4 juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi, mengingat kontribusi Sumatera mencapai 22 persen terhadap ekonomi nasional. “Dampaknya tidak hanya di triwulan 4, tapi juga akan terasa di triwulan pertama 2026 kalau pemulihan tidak segera didukung pemerintah,” tandas Eko.






