INAnews.co.id, Jakarta– Saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) menguat signifikan sepanjang Juli 2026 setelah investor asing gencar melakukan aksi beli bersih (net foreign buy). Penguatan ini terjadi di tengah beredarnya rumor akuisisi oleh raksasa multinasional Nestlé serta ekspansi bisnis hulu-hilir perseroan yang terus berjalan masif.
Berdasarkan data orderbook pasar modal terkini, investor asing membukukan nilai Foreign Buy sebesar Rp35,78 miliar, berbanding Foreign Sell sebesar Rp19,57 miliar, sehingga tercatat net foreign buy bersih sebesar Rp16,22 miliar. Dari sisi volume, asing memborong 53,32 juta lembar saham dan melepas 28,92 juta lembar, menghasilkan net buy volume bersih 24,40 juta lembar atau setara 11,34 persen dari total nilai perdagangan saham tersebut.
Mengikuti derasnya akumulasi asing, saham BAIK ditutup menguat di level Rp735 per lembar (+2,08%), melanjutkan tren penguatan yang konsisten sepanjang bulan ini.
Penguatan harga saham BAIK tak lepas dari spekulasi ketertarikan Nestlé terhadap portofolio bisnis perseroan, yang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar modal. Isu ini bahkan sempat memicu respons dan permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pergerakan harga saham yang tidak wajar.
Menanggapi spekulasi tersebut, Direktur Utama BAIK, Nanang Suherman, buka suara.
“Kami memang tengah intens menjajaki berbagai peluang strategis dengan pihak eksternal demi memuluskan langkah ekspansi ke panggung internasional. Namun hingga saat ini belum ada keputusan final atau perjanjian mengikat yang dapat kami publikasikan kepada publik,” ujar Nanang dalam keterangan yang diterima media, Rabu (29/7/2026).
Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk kepatuhan manajemen terhadap regulasi keterbukaan informasi di pasar modal, sekaligus meredam spekulasi berlebihan di kalangan investor.
Di luar isu akuisisi, gairah investor asing juga ditopang oleh realisasi sejumlah pilar ekspansi bisnis BAIK yang semakin nyata. Di sektor ritel, perseroan menggandeng Atta Halilintar, Aurel Hermansyah, serta Dewa Eka Prayoga untuk meluncurkan lini camilan siap makan premium tanpa bahan pengawet, seperti cumi hitam, peyek udang rebon, hingga ayam oseng mercon.
Selain itu, BAIK juga tengah mematangkan kerja sama dengan TransJakarta untuk membangun coffee tenant dan booth kreatif di sejumlah halte BRT, sekaligus memperkuat program “Tumbuh Bersama Mitra Binaan” yang telah menjangkau 1.000 UMKM di seluruh Indonesia.
Langkah ekspansi hulu-hilir perseroan turut diperkuat dengan rencana pembangunan pabrik sterilisasi modern serta kemitraan pasokan telur skala besar di Semarang.
Sinyal keyakinan juga datang dari internal perusahaan. Komisaris Utama Yeni Isnawati tercatat melakukan pembelian kembali (buyback) saham secara pribadi hingga ratusan ribu lembar, disusul Direktur Utama Nanang Suherman yang turut memborong 100.000 lembar saham. Aksi buyback internal dalam jumlah besar ini dipandang pelaku pasar sebagai bentuk keyakinan kuat manajemen atas fundamental dan prospek bisnis perusahaan ke depan.
Dengan kombinasi arus dana asing yang konsisten, fundamental bisnis yang membaik, diversifikasi usaha yang agresif, serta potensi kemitraan strategis internasional, saham BAIK diproyeksikan tetap menjadi salah satu saham yang paling atraktif untuk dicermati pelaku pasar hingga akhir tahun.*






