INAnews.co.id, Jakarta– Pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, dalam sebuah acara Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah memicu gelombang polemik di kalangan aktivis mahasiswa, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Cak Imin berkelakar, “Kalau ada sesuatu yang tidak tumbuh dari bawah itu bukan PMII tapi HMI,” sebuah candaan yang bagi sebagian pihak dianggap melecehkan sejarah HMI.
Pengamat politik, Adi Prayitno, menanggapi insiden ini sebagai “jok politik” yang biasa dilontarkan Cak Imin, yang dikenal memiliki selera humor di atas rata-rata. Menurut Adi, pernyataan semacam ini adalah hal lumrah dalam dinamika antar-organisasi kemahasiswaan.
“Ini saya anggap sebagai bercanda saja secara politik,” ujar Adi, seraya menambahkan bahwa aktivis HMI dan PMII memang kerap saling “bergunjing” dan menyenggol satu sama lain dalam acara internal mereka lewat akun YouTube-nya, kemarin (15/7/2025).
Namun, lebih dari sekadar candaan, Adi mengakui bahwa pernyataan Cak Imin mempertebal rivalitas abadi antara HMI dan PMII. Dua organisasi mahasiswa Islam terbesar ini memang telah lama bersaing ketat, mulai dari pemilihan ketua BEM di tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan. Persaingan ini bahkan berlanjut hingga ke level nasional, di mana para mantan aktivis kedua organisasi saling menghitung kader-kader terbaik mereka yang berhasil menduduki posisi penting di pemerintahan atau partai politik.
Adi juga mencatat adanya reaksi beragam di internal HMI. Sebagian menganggapnya sebagai lelucon biasa dari Cak Imin, namun tak sedikit pula yang bereaksi marah dan menuding Cak Imin “ahistoris.” Mereka berpendapat bahwa HMI sejak awal kelahirannya telah tumbuh dan berproses bersama masyarakat, bukan “tidak tumbuh dari bawah” atau bersifat elitis. Bahkan, beredar kabar adanya ajakan untuk berdemonstrasi mengepung kantor Cak Imin sebagai bentuk ketidaksetujuan.
Di sisi lain, muncul pula “serangan balik” berbentuk sindiran pedas terhadap Cak Imin. Salah satunya adalah tebak-tebakan tentang “sahabat yang tidak pernah bertemu Nabi” yang merujuk pada “Sahabat PMII”—istilah panggilan bagi kader PMII.
Sindiran lain yang lebih menohok menyoroti posisi politik Cak Imin yang dulu getol mengusung “perubahan, anti infrastruktur, anti IKN, anti keberlanjutan” pada Pilpres 2024, namun setelah kalah, justru bergabung dengan koalisi pemenang dan kini pro-IKN serta pembangunan infrastruktur.
Adi Prayitno mengakhiri analisisnya dengan menyerukan agar publik tidak terlalu tegang menanggapi dinamika politik semacam ini. Baginya, “ledekan-ledekan, colek-colekan hal-hal yang kayak gini bagi saya adalah hal lumrah.” Ia menekankan pentingnya menjaga guyub dan silaturahmi di tengah perbedaan pandangan dan sikap politik.






