INAnews.co.id, Jakarta– Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dikabarkan akan melakukan rebranding besar-besaran, termasuk mengubah logo dari bunga mawar merah menjadi gajah dengan kombinasi warna merah dan hitam. Langkah ini memicu spekulasi bahwa PSI semakin berusaha mengidentikkan diri sebagai “partainya Jokowi” sekaligus menyasar basis pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti bahwa perubahan logo PSI bukan sekadar penyegaran visual, melainkan upaya untuk memperkuat positioning politik. “Gajah adalah simbol kekuasaan, tunggangan raja, dan kekuatan. Ini sinyal bahwa PSI ingin dilihat sebagai partai yang siap bertarung di panggung politik,” ujarnya lewat akun YouTube-nya, Kamis (17/7/2025).
Namun, yang lebih menarik adalah warna gajah dalam logo baru PSI: kepala merah dan badan hitam—kombinasi yang sangat mirip dengan warna PDIP. “Ini bisa jadi taktik untuk merebut pemilih Jokowi yang selama ini beririsan dengan basis PDIP,” tambah Adi.
PSI juga disebut akan menambahkan tagline “Partai Super Terbuka”, sebuah istilah yang pernah diusung Jokowi. “Ini semakin mempertegas bahwa PSI ingin menjadi ‘partainya Jokowi’,” kata Adi.
Faktanya, sejak lama PSI dikenal sebagai partai yang sangat loyal kepada Jokowi, bahkan menjadikannya sebagai “bapak ideologis”. Namun, pertanyaannya: apakah rebranding ini benar-benar akan meningkatkan elektabilitas PSI, atau sekadar upaya untuk tetap relevan di tengah persaingan politik yang semakin ketat?
Adi Prayitno mengingatkan bahwa rebranding tidak otomatis meningkatkan elektabilitas partai. “Yang membuat partai kuat bukan logo atau jargon, melainkan kerja nyata untuk rakyat,” tegasnya.
PSI sendiri kerap dikritik karena dianggap hanya fokus pada pencitraan, sementara praktik politiknya justru bertolak belakang dengan janji “anti-dinasti”. “Lihat saja, mereka mendukung Gibran Rakabuming Raka, yang jelas-jelas produk politik dinasti,” ujarnya.
Jika rebranding ini resmi diluncurkan dalam kongres PSI pada 19-20 Juli mendatang, partai ini akan semakin jelas posisinya sebagai “kendaraan politik” Jokowi pasca-lengser. Namun, tanpa kerja nyata, perubahan logo dan jargon hanya akan menjadi gimmick kosong.
“Pemilih Indonesia sudah semakin cerdas. Mereka tidak akan tergoda oleh simbol-simbol kekuasaan jika partai itu tidak memberikan solusi nyata,” pungkas Adi.






