INAnews.co.id, Jakarta– Ketegangan politik antara PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diprediksi akan terus berlanjut tanpa batas waktu, bahkan “sampai kiamat sekalipun” konflik kedua partai ini tidak akan berakhir. Demikian analisis pengamat politik Adi Prayitno merespons kritik tajam sejumlah elite PDIP terhadap suksesi kepemimpinan PSI.
Konflik terbaru ini mencuat setelah politikus PDIP Guntur Romli mengkritik keras proses pemilihan ketua umum PSI yang memenangkan Kaesang Pangarep. Romli menyebut pemilihan tersebut layaknya “sepak bola gajah” – merujuk pada pertandingan Indonesia vs Thailand di Piala Tiger 1998 yang diduga diatur hasilnya.
“Pemilihan ketua umum PSI mirip sepak bola gajah tahun 1998, di mana pemenangnya sebenarnya sudah ditentukan. Meskipun ada e-voting dan prosedur demokratis, hasilnya sudah sangat predictable – Kaesang pasti menang,” ungkap Guntur Romli seperti dikutip pengamat politik Adi Prayitno lewat akun YouTube-nya baru-baru ini.
Romli juga mempertanyakan klaim PSI sebagai partai terbuka. “Bagaimana mungkin PSI tidak bisa disebut sebagai partai milik elit dan keluarga tertentu, padahal Kaesang berasal dari keluarga politik Pak Jokowi yang notabene mantan Presiden RI,” kritik Romli.
Senada dengan Romli, politikus PDIP Arya Bima menyindir, “Percuma PSI bicara tentang Partai Terbuka kalau ketumnya Kaesang dan ketua dewan pembinanya kemungkinan Pak Jokowi.”
Merespons kritik tersebut, Ketua DPP PSI Seril Tansil memberikan sindiran halus. Ia menyatakan akan menerima masukan dari PDIP dan belajar tentang konsep “partai terbuka” – seakan mempertanyakan kredibilitas PDIP yang juga memiliki banyak dinasti politik internal.
Juru bicara PSI bahkan merespons dengan tenang, “Apa yang disampaikan Guntur tidak perlu diperdebatkan panjang, karena gajah tidak suka keributan dan lebih mementingkan kinerja.”
Yang membuat situasi semakin panas adalah komitmen tegas Jokowi untuk mendukung penuh PSI. Dalam sambutannya, mantan Presiden itu menegaskan akan “bekerja keras sungguh-sungguh untuk membesarkan PSI.”
“Ini semacam genderang perang politik yang sengaja dimunculkan ke publik bahwa PSI jangan lagi diremehkan. Di masa mendatang, PSI akan dipersiapkan menjadi partai yang cukup kompetitif,” analisis Adi Prayitno.
Menurut Prayitno, konflik PDIP-PSI ini berakar dari perpecahan pada Pilpres 2024 lalu. “Ketika Jokowi berseberangan dengan PDIP dan memilih mendukung Prabowo-Gibran, PSI yang dulunya bersama PDIP akhirnya lebih memilih bersama Jokowi,” jelasnya.
“Mungkin publik mengira setelah Pilpres usai, konflik akan reda. Nyatanya tidak – per hari ini terus berlanjut dan mungkin sampai kapanpun konflik politik antara PDIP dengan PSI akan terus berlanjut,” tambah pengamat politik itu.
Prayitno menilai kritik Guntur Romli dan Arya Bima masih bersifat individual, bukan sikap resmi PDIP secara kelembagaan. “Elite PDIP lainnya ketika ditanya soal PSI cenderung menghindari dan tidak mau terlibab konflik berkepanjangan,” katanya.
Namun ia memprediksi, dengan identitas PSI yang kini sangat melekat dengan Jokowi, “perdebatan, pergunjingan, dan polemik pastilah tidak berkesudahan.”
Dengan dukungan penuh Jokowi untuk PSI dan ketegangan yang terus berlanjut dengan PDIP, konstelasi politik Indonesia diprediksi akan semakin dinamis. “Jika Jokowi benar-benar bekerja keras maksimal menjadikan PSI partai besar, ketegangan dengan PDIP sudah bisa dibaca publik dan tidak akan berkesudahan,” pungkas Prayitno.
Konflik ini diperkirakan akan terus mewarnai panggung politik nasional, terutama menjelang pemilu-pemilu mendatang, di mana PSI dengan dukungan Jokowi akan berhadapan langsung dengan PDIP dalam perebutan suara dan pengaruh politik.






