INAnews.co.id, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin, 1 September 2025, bergerak melemah cukup signifikan, tertekan oleh kondisi sosial-politik dalam negeri yang belum stabil pasca-aksi unjuk rasa yang terjadi pekan sebelumnya.
IHSG dibuka pada level sekitar 7.620 dan sempat anjlok hingga lebih dari 3 persen, menurun sekitar 258 poin dari penutupan pekan sebelumnya di 7.830,49. Pada awal sesi perdagangan pagi ini, sebanyak 604 saham tercatat melemah, 20 saham menguat, dan 34 saham stagnan dengan nilai transaksi besar mencapai sekitar Rp2 triliun.
Para analis memandang pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian politik dan kondisi sosial yang kurang kondusif yang menyebabkan tekanan pada pasar saham dan potensi arus keluar dana asing. Meski demikian, ada harapan rebound jika situasi mulai kondusif.
Level support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 7.530 sampai 7.680, sementara resistance di kisaran 7.900 sampai 7.940. Di tengah ketidakpastian ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan sekitar 5,12 persen serta indikator PMI di atas 50.
Menurut riset dan analisis, situasi dalam negeri yang tidak stabil berpotensi memberikan tekanan jangka pendek pada IHSG sekaligus pasar obligasi dengan risiko volatilitas yang tinggi. Investor dinilai akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi sampai ada kejelasan kondisi politik dan keamanan.
Secara teknikal, IHSG berpeluang rebound jika mampu menutup perdagangan di atas level 7.900, namun saat ini masih dalam tekanan bearish dengan risiko koreksi lebih lanjut jika terjadi penutupan di bawah level support 7.760.
Kejadian ini dipantau ketat oleh pelaku pasar karena dampaknya terhadap kepercayaan investor dan risiko investasi di pasar modal Indonesia. Demikian dikutip berbagai sumber.*






