Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

PENDIDIKAN

Anak Muda Bandung Antusias Ikuti Jejak Mohammad Natsir

badge-check


					Foto: Adian Husaini/tangkapan layar Perbesar

Foto: Adian Husaini/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Fenomena mengejutkan terjadi di Kota Bandung. Dalam waktu kurang dari sehari, lebih dari 300 anak muda mendaftar untuk bergabung dalam Komunitas Nasir Muda yang baru diluncurkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, di Pendopo Kota Bandung, Selasa (14/10/2025).

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustaz Adian Husaini, mengaku terkejut dengan respons luar biasa dari generasi muda terhadap gagasan tersebut. “Respon, sambutan anak-anak muda terhadap gagasan ini luar biasa antusias. Dalam sehari itu ratusan, sekitar 300 lebih yang mendaftar,” ungkap Adian dalam kanal YouTube-nya yang diunggah Sabtu (25/10/2025).

Adian menuturkan, peluncuran komunitas ini berlangsung sangat cepat. Saat berada di Malaysia tanggal 9 Oktober, ia mendapat kabar dari Wali Kota yang siap menggelar acara lima hari kemudian. “Saya pas di Malaysia dapat kabar Pak Wali Kota siap hari lagi… dan tanggal 14 kita adakan acara di pendopo,” jelasnya.

Komunitas Nasir Muda bertujuan mengajak generasi muda mengkaji, menelaah, dan merefleksikan pemikiran Mohammad Natsir, serta mengkontekstualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Menurut Adian, intelektualitas Mohammad Natsir justru tumbuh subur di Bandung sejak beliau menempuh pendidikan di AMS (Algemene Middlebare School), setara SMA zaman Belanda.

“Di situ Pak Natsir mulai intensif ditempa sebagai seorang sosok intelektual muda ketika beliau SMA,” kata Adian. Yang membedakan Natsir dari siswa SMA Belanda lainnya adalah aktivitas intelektualnya yang dibina oleh guru-guru berwibawa seperti Ahmad Hassan, Haji Agus Salim, dan Syekh Ahmad Surkati.

Ditambah lagi, Natsir membawa budaya ilmu dari kampung halamannya di Minangkabau, di mana tradisi berdiskusi tentang ilmu, perjuangan, sejarah, dan peradaban hidup di surau, sawah, hingga warung.

Adian menekankan keteladanan Natsir sebagai negarawan yang tetap membantu pemerintah Orde Baru meski dizalimi. Natsir membantu normalisasi hubungan dengan Malaysia, meyakinkan Jepang untuk membantu Indonesia, hingga mencairkan bantuan investasi dari Kuwait dan Saudi Arabia.

“Kalau mau kaya, mungkin sudah bukan hanya miliarder. Beliau dipercaya oleh pemerintah Jepang, Saudi, dan sebagainya,” ujar Adian.

Bahkan Nakajima, staf Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda, ratusan kali bertemu Natsir untuk menyampaikan pesan pemerintah Jepang.

Yang mencengangkan, Natsir sebagai Menteri Penerangan harus mengenakan jas tambalan hingga anak buahnya berinisiatif mengurun membelikan jas baru untuknya. “Mana ada negarawan yang jadi Menteri Penerangan jasnya tambalan sampai urunan anak buahnya membelikan jas untuk Pak Natsir,” kenang Adian.

Kehebatan Natsir sebagai pendidik juga disorot Adian. Lulusan SMA yang dididik Natsir di Pesantren Darul Falah Bogor hanya 40 hari hingga 2 bulan, sudah siap diterjunkan ke daerah terpencil.

“Pak Muhammad Utsman sekarang jadi Ketua MUI Ternate, dia diutus Pak Natsir di Papua, tugas di sana 25 tahun,” cerita Adian. Bahkan Pak Syafruddin Zakaria dikirim ke Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, saat usianya baru 19 tahun, di mana kapal feri dari Bengkulu hanya datang 3 bulan sekali.

Komunitas Nasir Muda akan menggelar kegiatan rutin di Pendopo Kota Bandung atau lokasi lain yang disediakan Wali Kota. Adian juga berharap momentum ini berlanjut dengan penetapan 3 April sebagai Hari NKRI, bertepatan dengan hari promosi integral yang menandai jasa Natsir mengokohkan NKRI dari bentuk serikat menjadi negara kesatuan.

“Jasa Pak Natsir mengokohkan NKRI, mengembalikan Indonesia dari bentuk serikat ke negara kesatuan. Itu jasa Muhammad Natsir sehingga beliau diberi gelar pahlawan nasional tahun 2008,” tegasnya.

Adian juga mengajak masyarakat membaca bukunya berjudul “Mohammad Natsir: Negarawan Guru Dai Teladan” untuk memahami sosok yang dijuluki “Natsir yang Dirindukan” ini. Komunitas serupa rencananya akan diluncurkan di berbagai kota seperti Padang dan Aceh.

Dengan peluncuran Komunitas Nasir Muda, generasi muda Indonesia diharapkan dapat meneladani sosok negarawan yang mengutamakan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango

9 Januari 2026 - 18:59 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK