Menu

Mode Gelap
Kurban Online Berisiko Kikis Nilai Sosial dan Spiritual Klik “Bayar” di Aplikasi Sudah Dianggap Akad yang Sah Platform Kurban Online Wajib Transparan dan Akuntabel Kurban Online Sah, tapi Belum Tentu Ideal Myth vs Fact: Menjawab Mitos-Mitos Seputar Qurban di Masyarakat Juli 2026, Solar Impor Indonesia Ditarget Nol Persen

PENDIDIKAN

Negara Tidak Sehat Kalau Anak Muda Pemberani Dimusuhi

badge-check


					Foto: Tio Ardiyanto, dok. ist Perbesar

Foto: Tio Ardiyanto, dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Mahfud MD menyatakan bangga sekaligus prihatin atas kondisi yang dialami Tio Ardiyanto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menerima serangkaian teror usai vokal mengkritik pemerintah. Mahfud menilai, cara negara merespons suara-suara kritis semacam ini mencerminkan ketidaksehatan demokrasi.

“Saya bangga. Tapi kalau anak-anak berani tidak dibina, lalu diteror, apalagi sampai ibunya, negara ini tidak sehat,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang, Selasa (24/2/2026).

Mahfud yang pernah bertemu langsung dengan Tio dalam forum Komisi Percepatan Reformasi Polri menggambarkan mahasiswa tersebut sebagai sosok yang sopan, argumentatif, dan berbasis data.

Tio dikenal lantang mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG), bahkan menyebutnya dengan akronim “Maling Berkedok Gizi.” Ia juga menulis surat ke UNICEF mempertanyakan besaran anggaran pendidikan yang tidak berbanding lurus dengan pemenuhan hak anak. Kritikan Tio kian tajam setelah ia mengangkat kasus seorang anak yang bunuh diri karena tak punya uang Rp10.000 untuk makan.

Saat Menteri Sekretaris Negara merespons teror yang dialami Tio dengan pernyataan “kita tidak tahu siapa yang meneror,” Mahfud menyebut jawaban tersebut jauh dari memadai.

“Mestinya negara berkata: kita tidak tahu, lalu cari dong. Anda punya alat untuk itu,” ujarnya.

Mahfud mengingatkan bahwa teror serupa kepada aktivis dan jurnalis, termasuk pengiriman kepala babi dan bom molotov, hingga kini tidak jelas ujung pangkalnya meski aparat dikenal sangat cekatan dalam urusan lain.

“Masa yang begini tidak ketemu? Padahal alatnya sudah canggih,” sindirnya.

Ia menyerukan agar negara melindungi, bukan memusuhi, suara-suara kritis. “Orang seperti Tio harus ditemani, bukan dimusuhi. Kalau mau lihat faktanya, ayo duduk bersama.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Myth vs Fact: Menjawab Mitos-Mitos Seputar Qurban di Masyarakat

27 Mei 2026 - 17:01 WIB

Oligarki Keruk Rp15.000 T, Wajar Prabowo Tutup Keran Ekspor Bebas

26 Mei 2026 - 16:24 WIB

Politik Islam di 2029 Dinilai Belum Kompetitif Hadapi Partai Nasionalis

26 Mei 2026 - 14:19 WIB

Populer POLITIK