Menu

Mode Gelap
Parpol di Indonesia Dinilai Bukan Partai Sejati, Melainkan “Perusahaan Keluarga” Mengapa Kasus Pidana Pemilu Jarang Diproses? Ahli Ungkap Sistem “Berputar-putar” Ketujuh Komisioner KPU Pernah Dihukum karena Pelanggaran Etika Ahli: Sistem Pilkada Lewat DPRD Justru Picu Transaksi Politik Lebih Parah Prabowo Pernah Sebut Cagub Harus Siapkan Rp300 Miliar Maju Pilkada BAT Bank Akui Dana USD 1 Juta Dikuasai, CWIG Ultimatum Pengembalian Secepatnya

NASIONAL

ProJo Tinggalkan Jokowi Berlabuh ke Prabowo

badge-check


					Foto: Budi Arie Setiadi/tangkapan layar Perbesar

Foto: Budi Arie Setiadi/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Dalam langkah mengejutkan, relawan ProJo mengumumkan akan mengubah logo organisasi yang selama ini identik dengan wajah Jokowi. Alasannya: menghindari kesan kultus individu sambil beralih haluan mendukung Presiden Prabowo Subianto.

“Logo ProJo akan kita rubah supaya tidak terkesan kultus individu,” tegas Ketua Umum ProJo Budi Arie Setiadi saat Kongres ke-3 organisasi relawan yang pernah menjadi mesin pemenangan Jokowi tersebut, Sabtu (1/11/2025).

Dari Jokowi ke Prabowo

Perubahan logo bukan sekadar soal estetika. Budi Arie blak-blakan menyatakan ProJo kini bertekad penuh mendukung partai yang dipimpin Prabowo—alias Gerindra.

“Kami bertekad untuk memperkuat partai yang dipimpin oleh Presiden Prabowo. Yang pasti, kita akan memperkuat dan mendukung agenda-agenda politik Presiden Prabowo,” ucapnya tanpa ragu.

Pernyataan ini menarik mengingat ProJo selama ini dikenal sebagai basis loyalis Jokowi yang solid. Kini, organisasi tersebut siap bertransformasi mengikuti arah politik sang mantan presiden yang memilih bersandingan dengan Prabowo.

“ProJo Bukan Pro Jokowi”

Budi Arie juga meluruskan persepsi publik tentang nama organisasinya. Ia menegaskan “ProJo” bukan akronim dari “Pro Jokowi” seperti yang dipahami selama ini.

“ProJo itu bahasa Sanskertanya negeri, bahasa Jawa Kawinya artinya rakyat. Cuma teman-teman media kan ‘ProJo-ProJokowi’ karena gampang dipakai aja,” jelasnya dengan nada santai.

Dengan penjelasan ini, ProJo seperti ingin membangun jarak dengan citra lamanya sebagai organisasi yang terlalu personal dengan satu tokoh.

Misi Baru: Persatuan Nasional

Transformasi ProJo diklaim bukan sekadar ikut-ikutan, tapi respons terhadap tantangan geopolitik global yang kian kompleks. Budi Arie menekankan pentingnya persatuan nasional di tengah ancaman adu domba dari pihak asing.

“Belum tentu negara lain mau Indonesia maju. Kita punya sejarah diadu domba terus oleh negara-negara lain,” ujarnya mengingatkan.

Ia juga mengkritik sikap sebagian anak bangsa yang mudah terprovokasi. “Saya enggak suka kalau ada sesama anak bangsa diadu domba—kalian di mana sih? Ini negara kita loh,” kritiknya.

Jokowi Absen, Prabowo Ditunggu

Menariknya, dalam kongres penting ini, Jokowi tidak hadir secara langsung—hanya mengirim video. Budi Arie menjelaskan sang mantan presiden tidak boleh menghadiri kerumunan atas saran dokter.

Sementara itu, Budi Arie mengaku telah mengundang Prabowo untuk hadir, meski masih menunggu kepastian. “Pak Prabowo masih di Korea Selatan, tunggu aja,” katanya.

Simbolisme di balik ketidakhadiran Jokowi dan kemungkinan kehadiran Prabowo tampak jelas: era baru ProJo telah dimulai.

Akan Bergabung, Bukan Jadi Partai

Soal masa depan organisasi, Budi Arie menegaskan ProJo tidak akan bertransformasi menjadi partai politik tersendiri. “Rencana ProJo tidak akan menjadi partai tapi akan bergabung,” ujarnya, meski belum merinci bergabung dengan siapa.

Namun dari sinyal-sinyal yang diberikan, arah ProJo sudah jelas: masuk ke dalam ekosistem politik Prabowo dan Gerindra, meninggalkan identitas lama mereka sebagai mesin loyalis Jokowi.

Keputusan final mengenai logo baru dan transformasi organisasi akan diumumkan setelah seluruh peserta kongres dari seluruh Indonesia mengambil keputusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Parpol di Indonesia Dinilai Bukan Partai Sejati, Melainkan “Perusahaan Keluarga”

14 Januari 2026 - 12:20 WIB

Mengapa Kasus Pidana Pemilu Jarang Diproses? Ahli Ungkap Sistem “Berputar-putar”

14 Januari 2026 - 10:15 WIB

Ketujuh Komisioner KPU Pernah Dihukum karena Pelanggaran Etika

14 Januari 2026 - 08:10 WIB

Populer NASIONAL