INAnews.co.id, Jakarta– Surplus produksi listrik Indonesia yang mencapai 37 terawatt hour (TWh) pada 2023 mengindikasikan adanya fenomena deindustrialisasi. Kepala Pusat Pangan Energi dan Pembangunan Berkelanjutan INDEF, Abra Talattov, mencatat konsumsi listrik sektor industri terus menyusut dari 43 persen pada 2000 menjadi hanya 31 persen pada 2023.
“Kecepatan penambahan kapasitas listrik tidak diimbangi oleh kecepatan demand, khususnya dari sektor industri. Ini mengkonfirmasi deindustrialisasi dan target pemerintah untuk mendorong industri manufaktur masih berjalan lambat,” ungkap Abra dalam seminar nasional yang INDEF di Jakarta, belum lama ini.
Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi listrik Indonesia dalam 10 tahun terakhir hanya 4,4% per tahun, jauh di bawah target RUPTL 2025-2034 yang memproyeksikan pertumbuhan 5,2 persen per tahun. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi listrik karena selisih antara listrik yang diproduksi dengan yang dijual terus melebar.
INDEF merekomendasikan akselerasi konsumsi listrik hingga 6 persen per tahun yang dapat menghasilkan net saving fiskal hingga Rp140 triliun per tahun sampai 2034 melalui efisiensi subsidi energi.






