INAnews.co.id, Jakarta– Bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menewaskan 1.198 orang per Jumat (17/1/2026). Angka ini terungkap dalam pidato Anies Baswedan pada Rakernas I Gerakan Rakyat.
Lebih dari 1 juta jiwa mengungsi, ratusan ribu rumah hancur, dan lebih dari separuh desa di Provinsi Aceh terdampak. Sebanyak 144 orang masih dalam pencarian.
“Jangan pernah anggap ini sekedar angka statistik. Yang disebutkan itu adalah ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang kehilangan seluruh kenangan,” kata Anies dengan nada emosional.
Meski pemantik bencana adalah siklon tropis Senyar yang langka terjadi di wilayah katulistiwa, Anies menegaskan bahwa kerusakan masif disebabkan oleh “dosa ekologis yang bertumpuk bertahun-tahun.”
Ia mengibaratkan siklon sebagai korek api, sementara bensinnya adalah hutan yang hilang, sungai yang menyempit, dan gambut yang dikeringkan. “Korek api itu memang siklon. Tapi pertanyaannya bukan soal korek apinya. Bensinnya apa kemarin? Kok bisa nyalanya segede gini?” tanya Anies.
Dampak bencana terparah justru terjadi di kawasan dengan areal perkebunan sawit, karena sistem akar pohon sawit yang dangkal dan horizontal tidak mampu menahan air seperti pohon hutan yang akarnya dalam dan kompleks.
Anies menyebut peristiwa ini sebagai “wake-up call” yang hanya berguna jika diikuti tindakan nyata, bukan sekadar peringatan yang diabaikan.






