INAnews.co.id, Jakarta- Prof. Emil Salim membuka tabir bagaimana Presiden Soeharto mengelola timnya yang terdiri dari tiga kelompok besar—ekonom, militer, dan sosial—agar tidak saling berkonflik selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru.
Dalam wawancara eksklusif dengan Akbar Faizal yang tayang Senin (19/1/2026), Emil Salim mengungkapkan filosofi Jawa yang diajarkan Soeharto: “Menang tanpa ngasorake, ngeluruk tanpa bala.”
“Beliau mengajarkan pada kita: get things done without hurting feelings. Lakukan sesuatu tanpa menyinggung orang, tanpa menyakiti orang,” kenang Emil Salim.
Mantan menteri yang bertugas sejak 1971 hingga 1993 ini mengaku, sebagai orang Sumatra Barat yang berkarakter tegas, ia harus belajar gaya komunikasi halus ala Jawa. “Saya dari tadinya orang Sumatra Barat yang suka beng-beng-beng, menjadi orang Jawa yang kalau ngomong tangan sini gitu,” ujarnya sambil memperagakan gestur halus.
Emil juga mengungkap strategi Soeharto membangun sinergi dengan militer melalui pengajaran di Sesko (Sekolah Staf Komando). Para ekonom seperti Widjojo, Sadli, Subroto, dan dirinya mengajar sekaligus menginap di kompleks ABRI Bandung, lalu berdiskusi informal dengan para jenderal seperti Ali Murtopo dan Jenderal Yusuf setelah makan malam.






