INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Rusli Abdullah memprediksi harga beras akan terus mengalami kenaikan hingga Juni 2026 meski belum menyentuh level tertinggi seperti awal 2024, dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi mendorong inflasi ekspektasi.
Dalam Diskusi Publik Ekonomi 2026 yang disiarkan INDEF Rabu (21/1/2026), Rusli menyampaikan proyeksi berdasarkan model ARIMA menunjukkan tren kenaikan harga beras untuk berbagai varian akan berlanjut pada semester pertama 2026, sejalan dengan produksi padi yang cenderung stagnan.
“Saya memprediksi bahwa tahun 2026 sampai Juni 2026 harga beras akan terus naik. Levelnya belum sampai seperti di awal 2024 yang tertinggi sejak tahun 2018, tapi kenaikan ini bisa dikendalikan jika produksi sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Rusli.
Berdasarkan data BPS yang dipaparkan, sejak 2018 hingga awal 2023 harga beras masih relatif stabil. Namun setelah itu harga terus naik dengan capaian tertinggi di awal 2024. Di sisi lain, produksi padi cenderung stagnan.
Rusli menjelaskan program MBG berpotensi menjadi pendorong kenaikan harga karena menciptakan inflasi ekspektasi. Pengelola dapur MBG akan mengamankan pasokan beras untuk beberapa bulan ke depan karena memiliki anggaran yang harus diserap.
“MBG bisa mendorong expected inflation karena pengelola dapur butuh mengamankan beras untuk berapa bulan ke depan. Ini akan menjadikan kelangkaan bagi orang yang biasanya hanya beli beras harian karena upahnya upah harian, sehingga kalah dengan kebutuhan untuk MBG,” jelasnya.
Rusli memperingatkan jika pemerintah tidak bisa mengendalikan dengan baik antara kebutuhan MBG dan kebutuhan masyarakat, harga beras akan terus meningkat. Pada titik ekstrem, kenaikan harga beras bisa merembet ke komoditas lain dan menggoyahkan stabilitas ekonomi.
Terkait program MBG sendiri, Rusli menilai secara umum merupakan program yang sangat bagus bahkan telah menciptakan perubahan struktural besar di masyarakat, termasuk migrasi pekerjaan untuk terlibat di dapur-dapur MBG.
Namun ia mencatat beberapa permasalahan implementasi yang perlu segera diatasi, seperti kasus keracunan masif di awal program, kadar gizi protein yang dipertanyakan, hingga pelaksanaan MBG saat libur sekolah yang berpotensi menimbulkan penyelewengan anggaran negara.
“MBG adalah program bagus, bahkan mungkin kita tertinggal memulainya secara masif. Tapi catatan-catatan permasalahan implementasinya perlu segera diatasi,” pungkas Rusli.






