INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Rusli Abdullah memperingatkan ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor semakin mengancam ketahanan pangan nasional, dengan konsumsi tepung gandum per kapita naik 2,29 kali lipat dari 2013 hingga 2022, jauh melampaui kenaikan konsumsi beras yang hanya 1,09 kali lipat.
Dalam diskusi publik INDEF Rabu (21/1/2026), Rusli menyampaikan data BPS menunjukkan pergeseran pola konsumsi masyarakat perkotaan yang semakin bergantung pada produk berbasis gandum yang seluruhnya diimpor, sementara konsumsi singkong (kasava) sebagai produk domestik hanya naik 2,11 kali lipat.
“Kalau konsumsi tepung gandum terus tinggi di masa depan, ketergantungan kita akan menjadikan ketahanan pangan makin rapuh. Misalnya kalau ada shock harga, kita akan terpengaruh. Tapi kalau kita bergantung pada produksi dalam negeri seperti padi dan kasava, ketahanan pangan akan lebih kuat,” tegas Rusli.
Ia menjelaskan ketahanan pangan menurut World Food Summit 1996 yang dideklarasikan FAO mencakup empat aspek: ketersediaan fisik, kemampuan membeli (affordability), pemanfaatan yang aman (utilization), dan stabilitas pasokan. Keempat aspek ini harus terpenuhi meski suatu negara harus impor.
“Singapura meskipun tidak punya lahan dan sawah luas seperti Indonesia, tapi empat aspek ketahanan pangan tersedia dibandingkan Indonesia,” ungkapnya memberi contoh.
Rusli menyoroti konsumsi produk berbasis gandum yang terus meningkat akan melemahkan multiplier effect ekonomi domestik. Setiap Rp1 juta yang dibelanjakan untuk membeli kasava akan memberikan manfaat lebih banyak bagi petani dalam negeri dibanding Rp1 juta untuk membeli produk gandum yang jelas-jelas impor.
Lebih jauh, ia mengingatkan risiko shock geopolitik yang dapat mengguncang pasokan dan harga pangan dunia, seperti kasus Rusia yang memblokade Laut Hitam sehingga pasokan gandum dari Ukraina terhambat dan membuat pasar gandum dunia goncang pada 2022-2023.
“Ke depan banyak hal yang kita tidak tahu terkait geopolitik yang pasti akan mempengaruhi pergerakan harga pangan atau ketersediaan pangan,” katanya.
Untuk memperkuat ketahanan pangan, Rusli merekomendasikan pemerintah meningkatkan produktivitas pangan domestik, mendorong diversifikasi konsumsi terutama singkong dan ubi-ubian sebagai sumber karbohidrat alternatif, serta menyediakan pangan sehat untuk mencegah beban kesehatan jangka panjang.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi pangan sehat kepada masyarakat, mengingat Indonesia menghadapi masalah ganda malnutrisi (double burden of malnutrition) di mana stunting dan obesitas terjadi bersamaan, terutama pada kelompok ekonomi kurang mampu yang mengonsumsi makanan olahan tinggi gula dan kalori.






