Menu

Mode Gelap
Mempertanyakan Pertanggungjawaban Dana Jaminan Reklamasi Tambang UU Cipta Kerja Dinilai Permudah Perusakan Lingkungan Deforestasi Legal Lebih Besar dari Ilegal Sidang Sengketa Lahan di Desa Sea Memanas, Saksi Ungkap Fakta Mengejutkan, BPN Diduga Terlibat Pemalsuan Data Auriga: Pencabutan Izin 28 Perusahaan Dinilai “Pura-Pura” Ekspansi PLTG Berpotensi Membebani Masyarakat

ENERGI

Ekspansi PLTG Berpotensi Membebani Masyarakat

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Ekspansi besar-besaran pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dalam RUPTL 2025-2034 berpotensi membebani masyarakat, mengingat biaya pokok penyediaan (BPP) PLTG mencapai Rp 2.400 per kWh, jauh lebih mahal dibanding PLTU batubara yang hanya Rp900 per kWh.

Mutya Yustika dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) mempertanyakan strategi gas sebagai energi transisi. “Singapura yang 91 persen bergantung gas, harga listriknya mencapai 28 sen per kWh. Bagaimana pemerintah memitigasi agar tidak membebani rakyat?” tanyanya dalam diskusi INDEF, Selasa (27/1/2026).

Wakil Ketua Komisi 12 DPR RI Sugeng Suparwoto menjelaskan, pemerintah memberikan subsidi melalui Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 6,5 per MMBTU untuk pembangkit listrik. “Gas mahal tapi handal dan emisinya rendah, makanya ditetapkan HGBT,” jelasnya.

Vice President PLN Deden Nabubu menegaskan PLTG tidak dijadikan baseload justru untuk menghindari beban ekonomi. “Karena mahal, PLTG hanya untuk flexible generation dan picker, bukan baseload,” katanya.

Kendala utama harga gas mahal adalah infrastruktur. Gas dari wellhead hanya US$ 4 per MMBTU, namun dengan biaya pencairan, transportasi, dan regasifikasi menjadi LNG, total mencapai US$ 9 per MMBTU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Subsidi Energi Fosil Rp400 Triliun Hambat Perkembangan EBT

29 Januari 2026 - 11:57 WIB

Transisi Energi Indonesia Terancam Gagal

29 Januari 2026 - 05:57 WIB

2026: Data Center dan Energi Terbarukan Jadi Sektor Prioritas Investasi

19 Januari 2026 - 17:55 WIB

Populer ENERGI