INAnews.co.id, Jakarta– Meski memiliki populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia justru menjadi importir produk halal terbesar keempat ke negara-negara OKI dengan nilai US$ 29,64 miliar pada 2023. Sementara sebagai eksportir, Indonesia baru menempati peringkat kesembilan dengan nilai ekspor hanya US$ 12,3 miliar.
Data SGIE Report 2024-2025 menunjukkan, eksportir terbesar produk halal ke negara-negara OKI justru dikuasai China, India, Brasil, Rusia, dan Amerika Serikat. Kondisi ini menjadi ironi mengingat Indonesia memiliki pasar halal domestik yang sangat besar.
Handi Risza Idris, peneliti CSET INDEF, menyatakan potensi perdagangan berbasis halal Indonesia mencapai US$ 170,6 miliar pada 2024. “Dari total ekspor produk halal US$ 41,4 miliar, komoditas unggulan adalah makanan dengan nilai US$ 33,61 miliar, disusul fashion US$ 6,83 miliar,” paparnya.
Lebih dari 60 persen kebutuhan daging dan susu Indonesia masih impor, terutama dari negara-negara non-muslim. Ketergantungan bahan baku seperti gelatin dan bahan tambahan pangan juga berpotensi menghambat efisiensi industri domestik.
“Ini paradoks. Demand produk halal di dalam negeri sangat besar, tapi kita masih menjadi net importir. Padahal ini peluang emas jika bisa kita tangkap,” ungkap Handi.






