INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom CELIOS Bhima Yudhistira mengusulkan mekanisme debt swap atau tukar utang sebagai jalan keluar atas beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) yang mencapai sekitar 1,2 triliun rupiah.
“Jalan keluarnya satu, harus melakukan debt swap, menukar utang dengan sesuatu yang bernilai,” kata Bhima dalam wawancara bersama Helmy Yahya, Senin (11/5/2026). Ia menyebut sejumlah opsi penukaran, antara lain restorasi terumbu karang, pembangunan rusun di sekitar stasiun, atau pengembangan kawasan industri yang infrastrukturnya disiapkan Indonesia sebagai bagian dari kesepakatan.
Bhima juga mengusulkan skema value-to-value, yakni kerja sama di mana Indonesia, melalui pengalaman mengoperasikan kereta cepat, ikut berkontribusi dalam proyek kereta cepat di negara lain bersama konsorsium Tiongkok, misalnya di Afrika atau Papua Nugini. Ia menyebut PT INKA dan Danantara sebagai pihak yang dapat dilibatkan dalam skema tersebut.
Ia mengingatkan, pemerintah perlu mengemas skema ini secara hati-hati agar tidak dipersepsikan sebagai sinyal gagal bayar oleh lembaga pemeringkat internasional. “Ini sebenarnya masalah komunikasi,” tegasnya.






