Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

INDAG

Tidak ada Impor Cabai segar sejak 2016

badge-check


					Tidak ada Impor Cabai segar sejak 2016 Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – Para Petani cabai Desa Jerukgulung Kecamatan Dempet Kabupaten Demak meminta maaf kepada pemerintah khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) atas aksi membuang cabai di jalan yang digelar beberapa hari lalu.

Bahkan petani pun kini menolak pernyataan yang menyebutkan adanya impor cabai karena pada kenyataannya tidak ada impor cabai segar sejak 2016.

“Kami memohon maaf juga, meralat dan koreksi, kemarin ada pernyataan ada impor padahal sebenarnya sejak 2016 sampai sekarang tidak ada impor cabai segar,” kata Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Sugiyono yang mewakili petani cabai Desa Jerukgulung, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak secara resmi melalui Pernyataan Petani Cabai Kabupaten Demak, Minggu (13/1/19).

“Kami mohon maaf kepada Pemerintah dan seluruh masyarakat atas kejadian kemarin, saat kami khilaf membuang cabai di jalan. Kejadian tersebut karena spontanitas, dan kami menyadari perbuatan tersebut tidak etis dan justru membuat kami menjadi malu,”

Sugiyono mengungkapkan Kementan telah memberikan bantuan sesuai usulan dan permohonan dari petani. Sejumlah bantuan dan fasilitas kemitraan, juga jaminan pasar diupayakan agar petani cabai tetap produktif dan bisa memenuhi kesejahteraanya.

Sugiyono mengakui bahwa sebenarnya perhatian dan bantuan pemerintah pusat melalui Kementan untuk petani cabai sangat luar biasa. Menurutnya, Menteri Pertanian Andi Amran sangat sigap membantu menyelesaikan masalah di lapangan dengan tuntas dan sangat cepat.

Tak hanya itu, Sugiyono, petani juga berterimakasih karena Cabai Merah Keriting dari petani Desa Jerukgulung, Kecamatan Dempet sudah dibeli dengan harga Rp 18.000 per kilogram sebagai jalan keluar.

Oleh karena itu, Sugiyono atas nama petani cabai Demak berjanji tidak mengulangi lagi dan akan lebih banyak melakukan diskusi dan dialog untuk mencari solusi seperti ini. Selain itu, akan mengikuti anjuran manajemen tanam dari pemerintah, meningkatkan efisiensi biaya, meningkatkan kualitas hasil.

Dengan cara itu, Sugiono, petani bisa memperoleh harga tertinggi dari penawar yang ada, menerima uang secara tunai dan harga bisa sama standar dalam satu wilayah. Selanjutnya petani akan terus berkomitmen memajukan pangan dan pertanian sebagai ladang hidup.

“Sekali lagi kami mengaku sangat malu dan mohon maaf yang sebesar besarnya atas kejadian ini. Semoga ke depan menjadi lebih baik,” akuinya. “Untuk itu, kami meminta agar seluruh video dan berita tidak benar yang sudah beredar di media agar dihapus dan diralat,” pinta Sugiyono.

Dan perlu diketahui, Sugiyono bersama petani cabai lainnya menggelar aksi buang puluhan kilogram cabai merah, di Jalan Raya Demak-Purwodadi pada hari Jumat sore (11/1/19).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam

23 Januari 2026 - 23:35 WIB

Harga Beras Diprediksi Terus Naik Hingga Juni 2026, Program MBG Jadi Pemicu

23 Januari 2026 - 16:19 WIB

Ketergantungan Impor Indonesia pada China Capai 30 Persen, Diversifikasi Mendesak

23 Januari 2026 - 15:18 WIB

Populer INDAG