INAnews.co.id, Jakarta– Habib Rizieq Shihab (HRS), eks Ketum Front Pembela Islam (FPI) meminta agar umat jangan mau (lagi) diadu domba hanya karena perbedaan politik atau pilihan.
“Pilpres sudah selesai. Pilkada serentak sudah selesai. Jadi jangan lagi ke depan ini, baik Pilpres maupun Pilkada memecah belah kita,” kata HRS di Reuni Akbar 212 Tahun 2024 di Monas, Jakarta Pusat.
Menurut HRS, berbeda pilihan dalam politik itu biasa. Ia pun kaget ketika hal biasa itu dipakai buat mengata-ngatai ulama.
“Makanya saya kaget begitu ada perbedaan pilihan, berani-beraninya ulama dimunafik-munafikan, disesat-sesatkan, dikafir-kafirkan. Jangan,” kata dia.
“Ada habaib, ada ulama berbeda pilihan dengan kita karena masing-masing ada ijtihad politik maka wajib kita saling menghormati. Jangan, jangan mau dipecah belah—yang bertarung orang lain, yang dapat kekuasaan orang lain, yang dapat kursi orang lain, yang dapat uang orang lain, tapi kenapa harus rakyat yang diadu domba, rakyat yang baku pukul, dan rakyat yang dipecah belah. Jangan mau lagi kita diadu domba,” lanjutnya.
Berbeda pendapat itu tidak apa-apa. Hanya saja ia mau mengingatkan semua, dalam memilih pemimpin jangan lupa menjadikan Alquran dan Assunnah sebagai pedoman.
Alquran dan Assunnah itu kata HRS, sudah menuntun kita bagaimana cara memilih pemimpin, yang model bagaimana pemimpin yang harus kita pilih.
Selama kita kata HRS, berpedoman kepada Alquran dan Assunnah, ijtimak, dan qiyas, serta yang disampaikan ulama-ulama salaf, insyaallah takkan terjerumus ke dalam jurang kebingungan. “Kita enggak bakal bingung,” katanya.
“Kita bingung karena meninggalkan Alquran dan Assunnah. Kita bingung pilih pemimpin karena kita jauh dari Alquran dan Assunnah. Kalau kita ikut Alquran, Assunnah, ijtimak, qiyas, petunjuk ulama kita yang diikuti, insyallah kita takkan pernah bingung. Tidak pernah bisa dipecah belah,” paparnya.
Ia pun mengajak umat untuk kembali ke barisan, merapikan saf, ‘emperkuat barisan karena PR kita kata HRS, ke depan banyak.
“Dari dahulu saya menekankan siapa pun presidennya, siapa pun gubernurnya, siapa pun bupatinya, siapa pun wali kotanya, kewajiban kita tetap sama: dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan jihad. Siapa pun presidennya, kewajiban kita enggak akan pernah berubah,” tandasnya.






