Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

SOSIAL

Rocky Gerung Bahas Krisis Lingkungan dan Etika Manusia dalam Kajian Subuh Ilmiah

badge-check


					Foto: Rocky Gerung (pemerhati lingkungan) dalam acara Kajian Subuh Ilmiah Alam dan Kita dalam Perspektif Agama dan Sains/tangkapan layar Perbesar

Foto: Rocky Gerung (pemerhati lingkungan) dalam acara Kajian Subuh Ilmiah Alam dan Kita dalam Perspektif Agama dan Sains/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pemerhati lingkungan dan intelektual publik, Rocky Gerung, menyoroti krisis ekologis global serta hubungannya dengan etika manusia dalam acara Kajian Subuh Ilmiah Alam dan Kita dalam Perspektif Agama dan Sains. Dalam paparannya, Rocky menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya ancaman bagi stabilitas politik, tetapi juga bagi keberlangsungan bumi sebagai entitas yang suci.

Krisis Nuklir dan Kerusakan Lingkungan

Rocky mengawali dengan contoh ketegangan nuklir antara India dan Pakistan. Menurutnya, perang nuklir tidak hanya berimplikasi pada kehancuran manusia (Mutual Assured Destruction/MAD), tetapi juga pada kemampuan bumi untuk “memaafkan” kerusakan yang dibuat oleh manusia.

“Pertanyaannya bukan lagi tentang stabilitas politik regional, tapi apakah bumi bisa memaafkan kemudaratan yang dibuat manusia?” ujarnya.

Ia mengajak audiens memahami krisis ini dari perspektif sains dan teologi, termasuk tafsir ayat-ayat suci tentang akhir zaman (eskatalogi). Rocky menegaskan, alam semesta memiliki mekanisme pemulihan sendiri, tetapi kerusakan akibat aktivitas manusia (antroposen) telah melampaui batas daya pulih bumi.

Belajar dari Hukum Semesta dan Kearifan Lokal

Rocky mengutip prinsip “Alam Takambang Jadi Guru” dari kebudayaan Melayu, yang menekankan kesetaraan epistemik antara manusia dan alam. Ia juga merujuk pada ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia menggunakan akal untuk membaca tanda-tanda alam.

“Ilmu pengetahuan harus diselundupkan melalui ayat-ayat suci karena bumi ini suci,” tegasnya.

Ia memberikan contoh fenomena alam yang menakjubkan: gurun Sahara yang tampak gersang ternyata menjadi “pabrik pupuk” bagi hutan Amazon melalui siklus fosfat yang dibawa angin. “Allah SWT yang mengatur itu, bukan oligarki,” ucapnya.

Perempuan, Etika Kepedulian, dan Kerusakan Lingkungan

Rocky menyamakan hak bumi dengan hak perempuan, mengingat keduanya sering menjadi korban eksploitasi. Menurutnya, “ethics of care” (etika kepedulian) yang dimiliki perempuan lebih dekat dengan teologi dan kepekaan ekologis dibandingkan rasionalitas maskulin yang cenderung eksploitatif.

“Merusak bumi sama dengan memperkosa perempuan, karena bumi adalah ‘ibu’ kita,” tegasnya.

Ia mengkritik sistem politik yang mengubah needs (kebutuhan) menjadi wants (keinginan), memicu kerakusan dan kerusakan lingkungan. “APBD dan APBN adalah ‘rahim laki-laki’ yang diisi arogansi dan perampokan,” sindirnya.

Teologi dan Harapan untuk Bumi

Rocky menutup dengan pesan bahwa teologi memberikan harapan akan keadilan dan kemuliaan manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa bumi akan terus mencatat segala tindakan manusia—baik melalui hukum fisika, ekologi, maupun penghakiman ilahi.

“Semua yang kita lakukan dibaca oleh ilmu pengetahuan, tetapi ada yang tak terbaca: teologi. Allah memahami kita melampaui pemahaman kita tentang alam,” pungkasnya.

Acara ini juga menghadirkan Ustaz Abdul Somad, yang dijadikan Rocky sebagai rujukan dalam menjelaskan konsep penciptaan dan keadilan ekologis. Kajian ini diharapkan dapat mendorong kesadaran kolektif untuk lebih menghormati alam sebagai entitas yang suci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

23 Januari 2026 - 22:25 WIB

Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat

23 Januari 2026 - 21:20 WIB

Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Populer POLITIK