Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

NASIONAL

Din Serukan Penghentian Perang Israel-Iran dan Desak Dunia Islam Bersatu Lawan Kezaliman

badge-check


					Foto: dok. Detik Perbesar

Foto: dok. Detik

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin, menyampaikan pandangannya mengenai konflik yang memanas antara Israel dan Iran, menegaskan dilema antara mendesakkan penghentian perang demi perdamaian atau mendukung perlawanan terhadap kezaliman. Menurutnya, sebagai warga dunia yang cinta damai, perang harus dihentikan karena hanya membawa malapetaka.

Namun, sebagai warga dunia yang cinta keadilan, perlawanan terhadap kezaliman perlu didukung hingga perdamaian terwujud demi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Din Syamsuddin menyoroti serangan Iran terhadap Israel sebagai balasan atas serangan-serangan Israel sebelumnya, termasuk pembunuhan Pemimpin Hamas Ismail Haniyah di wilayah Iran. Ia menilai bahwa balasan Iran, termasuk dari Houthi di Yaman, dapat dipahami dan perlu didukung mengingat ulah Israel yang meluluhlantakkan Gaza serta menyerang Lebanon Selatan dan Iran. “Kekejaman harus dilawan,” tegasnya lewat keterangan yang diterima media, Jumat.

Ia berpendapat bahwa permintaan bantuan Israel kepada Amerika Serikat untuk menghentikan serangan Iran sudah terlambat. Menurutnya, Israel harus dilumpuhkan dan dihancurkan hingga menyerah agar perdamaian di Timur Tengah dapat terwujud.

Din Syamsuddin mengutip adagium kuno “si vis pacem, para bellum” (jika kamu menginginkan perdamaian maka siaplah berperang). Ia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat terlibat lebih jauh dan mengajak sekutunya menyerang Iran, Perang Dunia Ketiga tak terhindarkan, dengan Iran kemungkinan didukung oleh Tiongkok, Rusia, dan Pakistan.

Oleh karena itu, Din Syamsuddin menyerukan agar Israel menghentikan perang dan Amerika Serikat berhenti mendukung Israel. Pada saat yang sama, Iran juga diharapkan cukup dengan serangan balasannya.

Din Syamsuddin juga mendesak negara-negara Arab dan Dunia Islam untuk tidak berdiam diri. Menurutnya, sudah saatnya tidak melihat Iran sebagai negara Syiah yang harus dikecam, melainkan sebagai negara yang diserang secara kejam. Ia menuding Amerika Serikat telah lama mendorong “perang perwakilan” (proxy war) di Timur Tengah dengan mengadu domba negara-negara Arab yang Sunni dengan Iran yang Syiah, yang disebutnya sebagai strategi untuk menghancurkan Dunia Islam.

Ia menekankan pentingnya bagi Dunia Islam untuk mengesampingkan masalah ideologis/teologis antara Sunni dan Syiah, dan memusatkan kepentingan untuk menghadapi Israel yang menjajah Palestina dan melakukan genosida atas rakyat Palestina.

Bagi Indonesia, sebagai negara yang cinta damai dan keadilan sesuai amanat konstitusi, Din Syamsuddin menyerukan tindakan nyata:

  1. Menekan Israel untuk menghentikan genosida dan serangan atas Iran
  2. Menekan Amerika Serikat untuk berhenti mendukung Israel dan mengadu domba negara-negara Islam
  3. Menghentikan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Israel secara langsung atau tidak langsung
  4. Menggalang solidaritas negara-negara ASEAN dan anggota OKI untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan menghentikan penjajahan Israel atas Palestina
  5. Terakhir, ia mengimbau umat Islam di Indonesia dan di dunia untuk mengesampingkan perbedaan ideologis/teologis dan tidak terpengaruh oleh adu domba antara Sunni-Syiah.

“Janganlah membenci Iran karena Syiah, sementara kita mendukung Israel yang Zionis dan anti-Islam,” pungkas Din Syamsuddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

23 Januari 2026 - 22:25 WIB

Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

23 Januari 2026 - 21:55 WIB

Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat

23 Januari 2026 - 21:20 WIB

Populer POLITIK