INAnews.co.id, Jakarta– Jakarta Islamic Centre (JIC), salah satu pusat kegiatan keislaman di ibu kota, akan segera menjalani revitalisasi pascakebakaran beberapa tahun lalu. Proses pembahasan renovasi melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah DKI Jakarta, ulama, akademisi, dan bahkan pemerintah Arab Saudi.
KH Muhyiddin Ishaq, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) JIC, menyampaikan bahwa saat ini sedang dibahas tiga opsi untuk pembangunan kembali masjid di kompleks JIC yang terdampak kebakaran.
“Kami mempertimbangkan apakah akan direnovasi sebagian, direnovasi total dengan ukuran sama, atau bahkan diperbesar,” ujarnya dalam Silaturahim Tokoh dan Ulama Jakarta dengan tema: “Peran JIC Bersama Tokoh dan Ulama dalam Mewujudkan Jakarta sebagai Kota Global”, Selasa (24/6/2025), di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa JIC harus menjadi tolok ukur tidak hanya bagi Jakarta tetapi juga Asia. “Kami membutuhkan masukan konstruktif dari para kiai, profesor, dan cendekiawan untuk memastikan JIC ke depan lebih berkualitas,” tambahnya.
Sementara itu, Fajar Eko Satriyo, Kabiro Dikmental DKI Jakarta, mengakui bahwa pemulihan JIC pascakebakaran belum maksimal. “Selama ini baru sebatas pembersihan. Ini menjadi PR besar bagi kami,” katanya.
Namun, ia mengungkapkan kabar baik: Pemerintah Arab Saudi melalui Dubesnya telah menyatakan kesediaan untuk membantu. “Ini perlu disinergikan dengan proses birokrasi kedua negara. Kami berharap dukungan dan doa agar semua berjalan lancar,” ujar Fajar.
Selain itu, Fajar menekankan bahwa ulama memiliki peran krusial dalam sejarah Jakarta, mulai dari masa Jayakarta hingga menjadi kota metropolitan seperti sekarang. “Ulama bukan hanya pendidik spiritual, tetapi juga penggerak sosial, penjaga moral, dan perekat masyarakat,” katanya.
“Di tengah arus globalisasi, nilai-nilai keislaman yang moderat dan toleran menjadi fondasi penting bagi harmoni Jakarta,” imbuhnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta sedang disusun dan membutuhkan kontribusi pemikiran dari para ulama. “Kami ingin masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban,” ujarnya.
Jakarta Menuju Kota Global Berbasis Nilai Keislaman
Menjelang ulang tahun ke-500 Jakarta pada 2027, Fajar menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan ulama dalam membangun kota yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga kaya nilai spiritual.
“Kami mengajak para ulama untuk terlibat dalam: memperkuat pendidikan agama yang inklusif; meningkatkan literasi Islam moderat; membina generasi muda di era digital; ‘emperkuat kolaborasi antar-ormas dan lintas iman; dan menjaga stabilitas sosial melalui pendekatan kultural.”
Muhyiddin berharap forum silaturahim ini dapat menjadi awal dari kerja sama berkelanjutan antara JIC, pemerintah, dan para tokoh agama. “Kami ingin JIC menjadi ikon Islam yang modern, toleran, dan berkemajuan, sekaligus menjadi kebanggaan Jakarta di kancah internasional,” pungkasnya.






