Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

POLITIK

Sorot Krisis Kemanusiaan di Gaza, Felix Pertanyakan Implementasi Akidah dan Serukan Persatuan Umat

badge-check


					Foto: Felix Siauw di acara “Konvoi Damai Menembus Blokade Gaza”, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/6/2025) Perbesar

Foto: Felix Siauw di acara “Konvoi Damai Menembus Blokade Gaza”, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/6/2025)

INAnews.co.id, Jakarta– Ustaz Felix Siauw mengungkapkan keprihatinan mendalam atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza, Palestina. Ia secara terbuka mempertanyakan implementasi akidah umat Muslim di tengah situasi yang disebutnya sebagai salah satu pekan terberat dalam hidupnya. Hal ini disampaikannya dalam sebuah acara yang bertujuan menyatukan umat yakni “Konvoi Damai Menembus Blokade Gaza”, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/6/2025).

Felix memulai pernyataannya dengan rasa syukur atas kesempatan berkumpul untuk membahas persatuan, sebuah tema yang dianggapnya paling penting saat ini. Namun, ia kemudian beralih ke kegelisahannya. “Dua pekan akhir ini mungkin adalah termasuk dua pekan yang paling berat di dalam hidup saya, secara pribadi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kondisi di Gaza membuatnya mempertanyakan keabsahan keimanan sebagai seorang Muslim.

Ustaz Felix menyoroti kontras antara ajaran akidah yang dipelajari umat Muslim—bahwa segala sesuatu atas izin Allah, kematian bukanlah akhir, dan dunia hanyalah sementara—dengan praktik nyata yang ia saksikan. Ia merujuk pada kru “Freedom Flotilla” yang berani pergi ke Gaza meskipun mengetahui kejahatan perang di sana.

“Jurnalis-jurnalis aja banyak yang mati. Tiga ratusan mati. Lebih banyak daripada Perang Dunia Kedua sekaligus Perang Vietnam digabung jadi satu. Kok kalian mau pergi sana?” tanyanya, merujuk pada pertanyaan yang diajukan kepada para relawan.

Jawaban dari para relawan non-Muslim tersebut, menurut Felix, justru mencerminkan esensi kemanusiaan yang terkadang belum terinternalisasi di kalangan umat Muslim. “Kami menyaksikan setiap hari orang-orang mati dengan cara yang tidak bisa kami bayangkan. Kemanusiaan hilang di depan mata kami… Kalau kami harus diam dengan apa yang kami lihat, dia bilang itu lebih buruk daripada mati. Worse than death,” kutipnya.

Ia juga mengutip surat Tiago, salah satu kru, yang rela mengorbankan nyawanya demi anak-anak di Gaza, meskipun Tiago bukan seorang Muslim yang belajar akidah. Hal ini membuat Felix bertanya, “Mereka gak belajar akidah. Kita belajar akidah.”

Persatuan Umat dan Peran Indonesia

Ustaz Felix Siauw juga menyoroti konsep ukhuwah (persaudaraan Islam). Ia menyatakan bahwa meskipun umat Muslim belajar bahwa setiap orang yang mengucapkan syahadat adalah saudara yang lebih dekat dari kerabat sedarah, namun dalam praktiknya persatuan itu terasa sulit dicapai. Ia bahkan menyebutkan doa orang-orang Gaza yang meminta Allah untuk memberi hukuman bagi negara-negara Arab yang tidak membantu, dan ia berharap Indonesia tidak termasuk di dalamnya.

Fenomena Global March to Gaza yang melibatkan enam ibu-ibu dari Indonesia juga menjadi perhatiannya. Mereka bertanya apakah kemenangan itu mungkin, mengingat banyak pihak yang justru menghalangi upaya bantuan.

Namun, Felix Siauw tetap optimis. Ia melihat perubahan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana isu Palestina menjadi perbincangan di berbagai negara seperti Prancis, Inggris, dan Swedia.

Ia percaya bahwa semua perubahan ini diinspirasi oleh orang-orang beriman, terutama dari Gaza. “Gaza mengubah dunia,” tegasnya.

Ustaz Felix Siauw juga berdiskusi dengan Profesor Abdul Fattah al-Awaisi, seorang ahli Baitul Maqdis. Ketika ditanya tentang tugas paling cocok bagi Indonesia, sebagai negara yang paling jauh dari Baitul Maqdis, Profesor Al-Awaisi menjawab: “Liberation of mind” atau pembebasan pemikiran.

Felix Siauw menghubungkan ini dengan perjuangan Rasulullah SAW selama 18 tahun untuk membangun fondasi ilmu dalam rangka pembebasan Baitul Maqdis. “Bangun fondasi Bapak-Ibu sekalian itu waktunya lama, itu gak kelihatan, itu membosankan, perlu uang yang banyak… Gak ada gunanya kekuatan politik, gak ada gunanya kekuatan militer, kalau kita tidak diarahkan dengan ilmu,” paparnya.

Ia mengakui rasa frustrasi pribadinya karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak bisa bergabung dalam konvoi. Namun, ia meyakini bahwa setiap kemenangan membutuhkan pengorbanan. Orang-orang di Gaza telah menunjukkan bagaimana pengorbanan dapat membuka dan mengeratkan dunia.

Ustaz Felix Siauw mengakhiri pidatonya dengan seruan untuk berkorban demi persatuan dan kepedulian. “Andai Bapak-Ibu sekalian, Allah ngambil nyawa kita, andaikan memang kita harus mati, untuk di jalan pembebasan kita itu makhlis yang kedua. Dan kalau pengorbanan kita, itu bisa membuat orang-orang, mengeratkan orang-orang, untuk lebih peduli, untuk lebih yakin, untuk lebih membarat. Bukankah itu pengorbanan yang kita cari?” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

23 Januari 2026 - 22:25 WIB

Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

23 Januari 2026 - 21:55 WIB

Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat

23 Januari 2026 - 21:20 WIB

Populer POLITIK