INAnews.co.id, Jakarta– Kejadian bentrokan saat tabligh akbar di Pemalang mengundang perhatian serius dari berbagai pihak yang mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.
Berdasarkan dokumen yang beredar di media sosial, penyerangan terhadap acara keagamaan yang dihadiri Habib Rizieq Shihab (HRS) tersebut diduga telah direncanakan sejak awal Juli 2025.
Sebuah surat bernomor 24/PWILS-PML/7/2025 tertanggal 12 Juli 2025 memperlihatkan adanya koordinasi untuk menggerakkan massa dari berbagai daerah seperti Batang, Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pekalongan, dan Brebes.
“Ini menunjukkan ada dalang intelektual yang harus diungkap,” kata seorang pengamat hukum yang meminta tidak disebutkan namanya.
Lebih lanjut, beredar pula surat tertanggal 16 Juli 2025 dengan nomor 200167/SI-007/PPLS/7/2025 yang berisi instruksi koordinasi tingkat nasional untuk menghadang acara tersebut.
FPI dalam pernyataannya menuntut polisi tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap siapa dalang intelektual di balik penyerangan sistematis ini.
“Tujuh orang terluka, ribuan jamaah terancam. Ini bukan lagi soal kebebasan berpendapat, tapi tindak pidana yang harus ditegakkan hukum,” tegas pernyataan tersebut.






