INAnews.co.id, Jakarta– Visi non-kapitalistik Presiden Prabowo dengan semangat “putting people first” berhadapan dengan realitas pahit: estimasi 200 juta rakyat Indonesia berada dalam kemiskinan atau sekitar 60-70% populasi.
Janji-janji kampanye yang dinilai bagus tersebut terbentur pada kondisi politik dan ketersediaan anggaran yang terbatas. “Conditional-conditional persyaratan untuk maju ke situ, terutama dari segi ketersediaan anggaran dan dukungan legitimasi harus direkatkan kembali,” tegas Rocky Gerung lewat channel YouTube-nya, pada hari Selasa.
Tanpa “radical break” atau terobosan yang memungkinkan rakyat merasakan harapan nyata, legitimasi pemerintahan akan terus tergerus. Retorika “mari kita optimis” atau “Indonesia Emas 2045” dinilai tidak lagi relevan bagi mayoritas rakyat yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kunci keberhasilan implementasi visi ini terletak pada kemampuan pemerintah menunjukkan kepemimpinan otentik yang mengutamakan kesejahteraan rakyat secara konkret, bukan sekadar slogan.






