INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat mengungkapkan adanya analisis mendalam tentang konspirasi digital yang diduga memanfaatkan kerusuhan Agustus lalu untuk mengalihkan isu pemakzulan Gibran Rakabuming Raka.
Dalam wawancara dengan Refly Harun, Jumhur memaparkan dokumen analisis yang melibatkan pemantauan 500.000 data poin dari berbagai platform media sosial termasuk Twitter (X), Facebook, Telegram, dan TikTok.
“Ada metodologi investigasi jaringan media sosial menggunakan tools Maltego GPI dan Node XL untuk pemetaan jaringan terkoordinasi, bahkan blockchain analysis untuk pelacakan aliran dana mencurigakan,” ungkap Jumhur di kanal Refly Harun, Selasa.
Analisis tersebut menyebutkan temuan utama berupa keterlibatan “Gang Jokowi plus taipan keturunan asing” dalam pola amplifikasi untuk mengalihkan perhatian dari isu Gibran.
Jumhur menyatakan bahwa kerusuhan yang terjadi pada 25 dan 28 Agustus bukan spontan, melainkan ada dalang yang bermain dengan “helicopter view” untuk memanfaatkan situasi konflik vertikal menjadi keuntungan politik tertentu.






