Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

POLITIK

CWIG : Jokowi Bicara Dua Periode, Padahal Bangsa Masih Luka , Politik Transaksional Demi Keluarga

badge-check


					CWIG : Jokowi Bicara Dua Periode, Padahal Bangsa Masih Luka , Politik Transaksional Demi Keluarga Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta – “Jokowi boleh bicara dua periode, tapi jangan lupa, bangsa ini masih terluka!”.

Begitu pernyataan tegas Cerdas Waspada Investasi Global (CWIG) menanggapi dukungan Presiden Jokowi agar pasangan Prabowo–Gibran melanjutkan kepemimpinan hingga dua periode.

CWIG menilai, pernyataan Jokowi bukan sekadar arahan politik, melainkan sinyal kegelisahan.

Publik membaca Jokowi khawatir posisi Gibran mulai terancam di pusaran kekuasaan, terlebih dengan isu pemakzulan hingga dugaan ijazah palsu. Dorongan dua periode dipandang sebagai tameng politik untuk mengamankan kepentingan keluarga.

Luka Sepuluh Tahun Jokowi

Namun bagi CWIG, ucapan ini justru menyayat hati rakyat. Sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi meninggalkan jejak kelam, penegakan hukum tumpul ke atas tajam ke bawah, kesenjangan sosial makin menganga, hingga maraknya investasi bodong yang merampas masa depan jutaan orang.

Data OJK mencatat kerugian akibat investasi bodong telah mencapai Rp142 triliun.

Itu baru angka resmi. Faktanya, kerugian riil diperkirakan menembus ribuan triliun. Banyak rakyat terpaksa menjual rumah, menggadaikan kebun, menukar SK PNS dengan utang, bahkan kehilangan nyawa karena tekanan berat hingga bunuh diri.

Ironi Dua Periode

Ironis, di tengah penderitaan rakyat, Jokowi justru bicara dua periode. Seolah luka bangsa bisa ditutup dengan retorika politik.

CWIG menegaskan, rakyat tidak boleh lagi menjadi korban pembiaran, sementara elite asyik berebut kursi kekuasaan.

Lukisan Jadi Tanda Alam

Fenomena lukisan Prabowo–Gibran yang viral kian menguatkan keresahan publik. Tafsirnya beragam, Prabowo hanya bertahan dua tahun, Gibran tampak menusuk dari belakang, kakinya terangkat seakan menendang, bahkan simbol angka dua dipahami sebagai isyarat dua periode.

Yang lebih mengejutkan, lukisan itu lahir di masa kampanye, jauh sebelum Prabowo resmi menjabat. Seolah semesta sudah lebih dulu memberi tanda: kekuasaan yang rapuh akan selalu dilingkupi ketidakpastian.

Demo Rusuh, Siapa Menunggangi?

Pasca demo besar yang berujung rusuh bulan Agustus kemarin, tafsir atas lukisan itu terasa semakin relevan.

Publik bertanya-tanya: apakah kerusuhan itu murni suara rakyat, atau ada kepentingan tersembunyi yang ikut menunggangi?

Spekulasi pun bermunculan dari skenario dua tahun, dua periode, hingga perebutan arah kekuasaan.

Ultimatum CWIG

Perlu dicatat, bila Prabowo benar melangkah ke periode kedua, belum tentu Gibran kembali dipilih mendampinginya.

Kapabilitas Gibran dinilai jauh dari standar kenegarawanan. Ia hanya bisa duduk di kursi wakil presiden karena Jokowi masih berkuasa kala itu. Masih banyak tokoh bangsa dengan integritas dan pengalaman yang jauh lebih pantas.

Ketua Umum Cerdas Waspada Investasi Global (CWIG) Henry Hosang pun mengeluarkan ultimatum, hentikan politik transaksional yang hanya menyelamatkan kursi keluarga.

Jika penderitaan rakyat terus diabaikan, suara publik akan bangkit menjadi gelombang penolakan.

“Jokowi boleh bicara dua periode, tetapi sejarah akan mencatat siapa yang menambah luka bangsa, dan siapa yang berjuang menegakkan keadilan,” tutup Henry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

23 Januari 2026 - 22:25 WIB

Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat

23 Januari 2026 - 21:20 WIB

Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Populer POLITIK