INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/9/2025) menguat seiring pelemahan dolar akibat data tenaga kerja AS yang mengecewakan. Rupiah tercatat menguat sekitar 0,40 persen ke level Rp 16.364,5 per USD pada pagi hari, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di kisaran Rp 16.424,5 per USD.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah ini dipicu oleh data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang jauh di bawah ekspektasi pasar, di mana penambahan pekerjaan pada Agustus 2025 hanya sekitar 22 ribu, jauh dari perkiraan 75 ribu. Selain itu, revisi data bulan Juni menunjukkan adanya penurunan pekerjaan.
Kondisi ini menimbulkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) hampir pasti akan memangkas suku bunga pada pertemuan bulan ini, membuat dolar AS melemah.
Sentimen positif terhadap rupiah juga datang dari peluang pemangkasan suku bunga The Fed yang diperkirakan mencapai hampir 97 persen, serta tekanan pelemahan dolar akibat data ketenagakerjaan yang mengecewakan. Investor domestik juga menanti data cadangan devisa yang menjadi salah satu faktor penting bagi stabilitas nilai tukar.
Meski demikian, ada proyeksi bahwa nilai tukar rupiah akan masih bergerak fluktuatif dan bisa ditutup di kisaran Rp 16.350 hingga Rp 16.450 per dolar AS pada hari ini.
Di sejumlah bank besar Indonesia, kurs rupiah berada di kisaran berikut: BRI jual Rp 16.399 per USD, Bank Mandiri jual Rp 16.400 per USD, BNI jual Rp 16.392 per USD, BCA jual Rp 16.375 per USD, dan CIMB Niaga jual Rp 16.410 per USD.
Penguatan rupiah ini sekaligus menjadi respon terhadap serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari sebelumnya dan pernyataan dovish dari pejabat The Fed, yang memperkuat sentimen bahwa suku bunga acuan AS akan segera dipangkas. Demikian dikutip berbagai sumber.*






