INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo memperingatkan struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas mentah dan semi olahan dengan nilai tambah domestik yang sangat terbatas, sehingga daya saing sangat bergantung pada harga global dan kebijakan negara tujuan.
Dalam Diskusi Publik Ekonomi 2026 yang disiarkan kanal resmi INDEF Rabu (21/1/2026), Ariyo menyampaikan bahwa meski beberapa sektor seperti produk mineral (HS27) dan nikel (HS75) mencatat pertumbuhan permintaan global yang pesat, keunggulan ini sangat rapuh jika tidak diikuti penguasaan teknologi.
“Ketergantungan pada komoditas mentah dan produk semi olahan masih sangat dominan. Nilai tambah domestik masih sangat terbatas dan daya saing sangat bergantung pada harga global serta kebijakan destinasi negara tujuan,” ungkap Ariyo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan Indonesia justru kehilangan momentum di beberapa sektor dengan permintaan global yang sedang tumbuh. Pangsa ekspor Indonesia di sektor-sektor tersebut stagnan atau sedikit menurun, bukan karena pasarnya mengecil, tetapi karena produk Indonesia tidak cukup kompetitif.
“Ini tanda-tanda yang perlu diperhatikan. Bukan karena pasarnya mengecil, tetapi produk kita tidak cukup kompetitif karena berbagai perkembangan dari produk negara lain,” tambahnya.
Ariyo juga menyoroti Indonesia mencatat peningkatan pangsa di sektor dengan pertumbuhan permintaan global yang rendah. Secara statistik terlihat positif, namun secara strategis tidak menjanjikan pertumbuhan jangka panjang karena share impor produk Indonesia di negara-negara tersebut menyusut.
Dalam perbandingan dengan negara kompetitor, Indonesia memang tumbuh positif namun tertinggal dari Vietnam, Meksiko, dan India. Pertumbuhan ekspor Indonesia kurang cepat dibanding kompetitor dengan ukuran gelembung ekonomi yang relatif lebih kecil.
“Indonesia bukan hanya tumbuh lebih lambat, tapi juga bermain di skala yang lebih sempit. Ini mengindikasikan ekspor Indonesia masih bertumpu pada kuantitas dan harga, bukan peningkatan kompleksitas produk atau penetrasi market baru,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal ini, Ario merekomendasikan dua langkah strategis. Pertama, penguatan komersialisasi riset dan inovasi domestik dari lab ke pasar, tidak hanya untuk publikasi dan paten, tetapi masuk ke pasar dan memenangi persaingan global.
Kedua, reformasi diplomasi ekonomi secara struktural dan masif. “Agenda perdagangan dan ekonomi internasional kita sangat terpinggirkan dengan agenda politik luar negeri. Perlu perubahan struktural agar kita bisa mengakses atau membuka market baru,” pungkasnya.






