INAnews.co.id, Jakarta- Peneliti Center of Macroeconomics and Finance (MACFIN) INDEF Riza Annisa mengungkap faktor kompleks di balik melemahnya konsumsi rumah tangga, dengan kelas menengah sebagai kelompok paling terpukul akibat gelombang PHK dan inflasi pangan yang tinggi.
“Pekerja di industri manufaktur padat karya mengalami PHK masif sejak 2024 hingga sekarang. Ketika di-PHK, mereka sulit mendapat pekerjaan serupa dan akhirnya masuk sektor informal seperti perdagangan atau pertanian tidak dibayar,” ungkap Riza dalam diskusi publik INDEF, Kamis (12/2/2026).
Riza menjelaskan, kelas menengah menghadapi tekanan ganda: harga bahan pangan yang terus tinggi dan kenaikan BBM non-subsidi. Tanpa dukungan pemerintah, disposable income mereka turun drastis dan kemampuan berkonsumsi berkurang. “Mereka hanya bisa memenuhi kebutuhan primer – sandang, pangan, papan,” jelasnya.
Data breakdown konsumsi membuktikan analisis Riza. Makanan masih tumbuh tinggi, begitu pula alas kaki dan pakaian di triwulan IV. Menariknya, pendidikan juga tinggi karena kelas menengah sangat aware dengan pendidikan anak, meski harus mengorbankan konsumsi lain.
Riza menemukan inkonsistensi data mengejutkan di triwulan IV. Sektor transportasi dan akomodasi meningkat secara sektoral, namun konsumsi masyarakat di transportasi, komunikasi, dan restoran justru turun. “Ini tidak sinkron. Kalau sektoral naik tapi konsumsi turun, berarti siapa yang menggunakan? Kemungkinan besar industri, karena industri manufaktur naik,” terangnya.
Secara keseluruhan, daya beli kelas menengah belum pulih bahkan cenderung turun sepanjang 2025. Yang memprihatinkan adalah nasib pekerja yang di-PHK – belum ada data pasti apakah mereka mendapat pekerjaan kembali di sektor formal atau terpaksa masuk sektor informal dengan penghasilan tidak menentu.






