INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Presiden SBY menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap Board of Peace yang diprakarsai Donald Trump, mempertanyakan apakah organisasi tersebut akan menjadi alat kontrol satu orang saja.
“Mudah-mudahan bukan organisasi di bawah kontrol Donald Trump, he himself sendiri yang lain dianggap just follow. Itu menjadi merugi,” kata SBY dalam wawancara eksklusif, Rabu (11/2/2026).
SBY mengungkapkan bahwa ia belum membaca secara utuh konstruksi Board of Peace, namun yang mengkhawatirkan adalah kekuasaan yang terpusat. “Lima hak veto saja susah, sekarang kalau Board of Peace katanya the leader is Donald Trump. Lima saja susah, satu orang,” tegasnya.
Ia meminta Presiden Prabowo dan Menteri Luar Negeri menjelaskan kepada publik Indonesia mengenai alasan bergabung dengan Board of Peace dan manfaat yang akan diperoleh, terutama terkait iuran sebesar US$1 miliar atau setara Rp17 triliun.
“Menurut saya didalami dulu. Sudah bergabung oke, tapi kan ini awal, kita belum tahu rules of the games-nya nanti seperti apa, kendalinya dominasi siapa, interest siapa,” ujar politisi yang pernah menjabat Ketua Umum Partai Demokrat ini.
SBY menegaskan pentingnya memastikan Indonesia memiliki suara dan kepentingan yang didengar dalam Board of Peace, bukan sekadar mengikuti kehendak pemimpin Amerika Serikat.






