INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof. Mahfud MD mengaku marah sekaligus memaklumi viralnya seorang ibu muda yang dengan bangga menyatakan anaknya tidak perlu menjadi warga negara Indonesia (WNI). Menurutnya, sikap tersebut bukan semata penghinaan, melainkan cerminan kekecewaan yang berjejak pada fakta nyata.
“Saya marah. Tapi saya juga paham bahwa apa yang dia katakan itu karena fakta yang sering mengecewakan,” ujar Mahfud dalam podcast Terus Terang yang diunggah di kanal YouTube-nya, Selasa (24/2/2026).
Mahfud menyebut ekspresi Dwi Sasetyaningtyas nama perempuan yang viral tersebut senada dengan fenomena sebelumnya, yakni tren “kabur aja dulu” yang sempat ramai diperbincangkan. Keduanya, menurut Mahfud, berakar dari satu masalah yang sama: negara gagal mengayomi rakyatnya.
“Kesetiaan kepada republik ini akan luntur. Rasa cinta kepada bangsa ini akan hilang secara pelan-pelan kalau negara tidak mampu mengayomi rakyatnya,” tegasnya.
Mahfud mencontohkan bagaimana rakyat kecil yang ingin berusaha justru diperas, izin usaha dipersulit, bahkan vonis pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap pun harus “ditebus” dengan uang.
Ia turut menyindir kondisi birokrasi perizinan. Ia mengutip pengakuan mantan Presiden Joko Widodo yang pernah menyebut lebih mudah mendirikan usaha di Dubai ketimbang di Indonesia.
Meski mengecam sikap Dwi sebagai terlalu emosional, Mahfud menolak narasi bahwa kritik tersebut tanpa dasar. Ia bahkan menyebut konten-konten Dwi di media sosial menunjukkan kecintaan yang tinggi pada Indonesia.
“Yang dia keluhkan bukan negaranya, tapi pemerintahnya. Jangan negaranya yang diserang,” kata Mahfud.
Soal keputusan pemerintah untuk mem-blacklist suami Dwi yang masih dalam ikatan beasiswa LPDP, Mahfud menyatakan setuju sebagai konsekuensi hukum. Namun ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya memberi sanksi — harus ada perubahan nyata.
“Pemerintah harus mengubah diri karena ini bukan hanya suara Dwi. Ini suara publik yang sudah lama terasa, terutama di masyarakat kecil.”






